 |
|
|
|
Sejak 07.02.2003
|
Bidang komunikasi dan informasi
Yvonne Rieger-R
Düren
Germany
|
|
|
 |
 |
|
Sobron Aidit :
KISAH SERBA-SERBI ( Hari Sumpah Pemuda - seri tiga )
Moderator kami ketika persidangan adalah Dr Sunggul Sinaga. Pak Sinaga ini adalah perwakilan RI di Roma buat badan-badan PBB sepertu FAO - IFAD -WFP. Mereka sekeluarga lengkap dengan empat putra-putrinya datang dari Roma. Mereka sekeluarga lengkapnya ada enam orang. Mula pertama saya tiba di asrama pemuda di mana kami menginap, saya bertemu dengan seorang peserta sidang yang paling muda. Saya tanyakan siapa namanya? Disebutnya Ghea Sinaga. Oh Ghea - tapi bukannya Ghea Panggabean yang akhli designer kan? Dia ternyum dengan ramahnya. Keluarga Pak Sinaga ini di mata saya sangat memberikan kesan yang amat dalam. Mereka ini sangat rukun - akur sekali - dan sangat saling menyayangi sesama sekeluarga. Saya sangat bahagia melihat mereka begitu bahagia. Kami dulu ketika masih muda-remajanya - seperti anak-anak Pak Sinaga inilah - selalu rukun - damai dan penuh keakraban antara keluarga. Kami seperti anak-anak ayam. Pabila ada sesuatu hal yang tidak menyenangkan - apalagi membahayakan - kami selalu "lari dan sembunyi" di bawah kepak dan sayap ibu kami. Juga merapatkan diri kepada ayah kami. Dan kami sangat merasa saling terikat - keterkaitan dengan keluarga. Ketika melihat dan memperhatikan sekeluarga lengkap Pak Sinaga ini, saya sangat terkenang akan keluarga kami ketika kami masih kecil sampai menjelang remajanya. Sangat akrab dan sangat rukun.
Tetapi begitu sudah besar dan masuk dalam warna politik, maka musuhnya dan yang mengincar keluarga saya, sangat intensif. Pada akhirnya abang saya yang sulung ditembak dekat Boyolali, yang hingga kini tak tahu di mana kuburannya. Dan dua abang saya yang lainnya, disiksa - dipenjara di Tanggerang + Pulau Buru, selama 13 tahun - termasuk di Pulau Buru 10 tahun. Dan kami, adik saya dan saya, sampai kini tidak boleh pulang mudik - menetap. Hanya boleh jadi turis saja! Dan ini berlangsung sudah 37 tahun! Melihat keluarga Pak Sinaga yang sangat rukun dan bahagia itu, bagaimana saya takkan terkenang dengan keluarga kami yang ketika masih lengkap dan rukun-damainya! Mau melihat dan tahu keadaan keluarga kami - begitulah seperti keadaan keluarga Pal Sinaga ini. Semua anak-anaknya yang dua perempuan dan dua laki-laki, saya kena- li dengan baik, seperti si kecil Ghea itu, dan kakaknya Valentia - Tia dan abangnya Renaldo Sinaga dan adiknya laki-laki Mantikana Sinaga dengan bunda Juda Martogi Sinaga.
Ada yang menarik perhatian peserta sidang. Beberapa orang merasakan moderator kami Pak Sinaga ini sebenarnya tidak perlu mengomentari begitu banyak dan panjang. Sebab nantinya tokh peserta sidang akan masuk dalam kelompok, yang akan mendiskusikan secara rinci. Seorang peserta sidang menginterupsi agar moderator jangan berpanjang-panjang komentar. Mendengar interupsi ini, kontan Pak Sinaga menjawab dengan sangat simpatik. Okey - okey - saya setuju dengan anda. Lalu peserta lainnya nyeletuk.....nah, kan sidang dengan moderator kita penuh semangat toleransi dan demokratis. Semua peserta senyum-senyum senang dan kami sangat merasa sesama peserta yang mencari kesamaan dan per- samaan.
Kami mendengarkan uraian Pak Mubyarto. Ada bahasa angka yang disebutkannya. Kini ada 800 juta orang yang dapat dikatakan dalam kategori lapar dan kelaparan di dunia ini. Dan beliau sudah "menjajakan" ekonomi Pancasila ini - sudah selama 24 tahun! Tapi belum juga laku dan laris, hanya sekedar "ada orang beli - ada calon pembelinya". Tapi saya terus akan "menjajakannya",- demikian Pak Mubyarto. Beliau bertanya dan menjawabnya sendiri. Apakah perekonomian Indonesia itu gagal? Atau berhasil? Kata beliau, berhasilnya sepertiga dan gagal nya duapertiga. Nah, kita sendirilah menjawabnya berdasarkan hasil riset-ilmiah yang sudah dikerjakan Pak Mubyarto selama puluhan tahun ini. Kalau pakai hitungan persen, mungkin 75% gagal dan 25% berhasil,- dus berhasil atau gagal? Keterpurukan selama ini saja cukuplah buat menjelaskannya. Lalu angka pengangguran selama ini sudah naik lagi menjadi 38,2 juta orang! Nah, angka ini-pun juga turut menjelaskan situasi perekonomian kita. Belum bahasa angka dengan "angkatan korupsi"nya. Orang akan segera menganggukkan kepala bila ada yang mengatakan, kini korupsi sudah sangat merajalela - merata - meluas - meninggi - mendalam dan melebar. Lebih dahsyat dari zamannya Suharto-, ini dikatakan banyak orang. Bedanya zaman Suharto, nilai korupsinya sangat tinggi dan yang top. Sedangkan zaman bunda Megawati ini, dia menjadi horizontal serta vertikal - menyeluruh dan "sempurna" korupsinya - lengkap dan komplit,-
----------------------------------------------------------------------
Holland,- 28 Oktober 03,-
|
 |
 |
|
Sobron Aidit :
KISAH SERBA-SERBI ( Hari Sumpah Pemuda - seri empat - habis )
Sudah dua kali saya mengikuti HSP yang diadakan oleh Perki yang selalu bekerjasama dengan KBRI setempat dan organisasi lainnya. Dan yang diundang serta yang hadir, tidak semata-mata umat Keristen. Perki selalu menyertakan agar penganut agama lain dapat bersama hadir. Misalnya yang beragama Islam - Budhisme - penganut kepercayaan Konghucu - Hindu dan lainnya. Ketika pada HSP di Berlin tahun yang lalu, ada beberapa peserta sidang yang dari agama lain dan tokh sidang HSP bisa terlaksana dengan baik. Dari dua kali saya mengikuti HSP yang diadakan Perki, yang selalu bekerjasama dengan pihak KBRI setempat, hasilnya selalu positive. Baik dan tampak kerjasama yang erat. Dan antara pihak pemerintah yang terwakilkan di KBRI dengan kegiatan - aktivitas Perki didukung oleh perwakilan RI setempat, selama ini sangat serasi - membuahkan hasil yang sama-sama kita harapkan.
Perbedaan sangat kecil yang saya alami di dua kali HSP, terletak pada soal makanan. Kalau di Berlin dulu, rasa tawar - kurang garam mendominasi makanan pokok, seperti nasi dan laukpauknya, maka di Wina sebaliknya. Rasa asin dan keasinan - terlalu banyak garam sangat mendominasi makanan pokoknya. Selama kami tiga sampai empat hari di Wina, hanya satu kali merasai nasi! Dan alangkah sayangnya, nasi yang begitu diharapkan dan dengan lauk setengah ayam goreng, lalu dikuahi - disaosi dengan rasa yang sangat asin - kebanyakan garam. Kebanyakan bahan lainnya yang bukan daging - saos salade - juga sangat asin. Serba-asin sangat dominan di Wina - bertentangan dengan di Berlin yang serba-tawar - kurang garam. Tentu saja kekurangan ini bukanlah yang besar amat. Tetapi alangkah baiknya kalau dimasa depan agar diperhatikan oleh tuan rumah yang mengadakan pertemuan.
Ada perbedaan antara di Berlin dan di Wina. Di Berlin kerja-masak-memasak ada pada pihak orang kita sendiri. Dari KBRI setempat yang banyak membantu Perki. Sedangkan di Wina ini, kita dalam beberapa hari itu betul-betul jadi orang Austria - penduduk Wina dalam soal makanan. Sebab sektor dapur sepenuhnya ada pada pihak tuanrumah - pihak asrama - yang tak seorangpun orang Indonesianya bisa turutcampur dibagian seksi dapur dan makanan. Jadi kami makan apa yang biasa dimakan penduduk Austria. Menurut saya, tidaklah berdosa kalau ada diantara kami yang diam-diam "nyelundup ke restoran Cina" yang ada di sekitar kota kecil Tulln itu. Perut-melayu ini, walaupun sudah puluhan tahun berdiam di Eropa, takkan selesai perkaranya kalau tidak ada nasi! Kalaupun merasa kekenyangan - tetap merasa belum makan kalau tak nasi! Sehari dua hari paling lama tak ketemu nasi - saya kira masih bisa tahanlah! Tapi lebih dari itu sekali lagi saya ulang - tidaklah berdosa amat pabila seseorang diam-diam keluar kompleks buat cari restoran Cina. Tampaknya soal ini adalah soal kecil. Tetapi siapa bilang takkan mungkin mempengaruhi seseorang buat bisa bertahan dalam beberapa sidang, dan makan tanpa nasi. Sudah merupakan kebiasaan sehari-hari dari sononya! Begitu datang nasi dan lauknya, tampaknya sangat sedap dan lezat,- tahu-tahu keasinan bukan main. Maka tidaklah menjadi kekurangan yang sangat vital kalau seseorang cari resto Cina. Bukankah yang paling penting adalah mencapai hasil maksimum dalam sidang dan tujuan pertemuan? Tentu bisa berpendapat lain dari yang saya tuliskan - bisa-bisa saja. Tapi saya kira kita sudah dapat masukan yang sangat baik akan hasil pertemuan HSP di Wina ini,- Bravo buat semuanya yang sudah bersusah-payah menjadikan pertemuan HSP ini mencapai hasil yang baik dan bagus!
---------------------------------------------------------------
Holland,- 28 Oktober 03,-
|
|
|