Sejak 07.02.2003

Bidang komunikasi dan informasi
Yvonne Rieger-R
Düren
Germany

Sobron Aidit :

KISAH SERBA-SERBI
( Hari Sumpah Pemuda -
seri satu )
 


Kami Perki Se-Eropa, bekerjasama dengan Keluarga Kristen Indonesia di Wina - Austria ( KKIA ) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wina ( KBRI WINA ), mengadakan peringatan Hari Sumpah Pemuda Se-Eropa. Pada tanggal 24 sampai dengan 26 Oktober diadakan di kota kecil Tulln, dipeluaran kota Wina. Banyak teman-teman menamai kota kecil ini dengan kota Bekasi-nya Wina. Jadi Wina itu Jakarta, sedangkan Bekasi-nya itu adalah Tulln.

Tadinya kami merencanakan buat menghadirkan dua pakar dengan disiplin ilmu ekonomi Pancasila = DR Mubyarto, dari Uni Gajah Mada Yogyakarta. Seorang lagi disiplin ilmu sejarah = Dr Asvi Warman Adam, dari LIPI Jakarta. Tetapi sangat disayangkan, Pak Asvi tidak bisa hadir dengan alasan tertentu. Agak terobati juga, karena ada Drs. Mangasi Sihombing, Dirjen Informasi, Diplomasi Publik dan Perjanjian Internasional DEPLU RI.

Setelah saya pikir-pikir, kedatangan kami ke Wina ini, sedikit agak luarbiasa. Dengan bis berangkat dari Belanda. Akan lewat Jerman dan menjemput peserta HSP beberapa orang. Dan kenapa saya katakan agak luarbisa. Perjalanan ini selama 16 jam! Lebih lama daripada terbang dengan pesawat dengan jarak Amsterdam - Jakarta! Selama 16 jam dengan singgah sana-sini dengan penat-badan - lelah-bosan. "Untung" banyak yang kami alami dan kami ciptakan selama dalam bis itu. Bis yang kapasitasnya buat 50 orang, kami isi tak sampai 40 orang peserta dari Holland dan Jerman. Dan berbagai acara dalam perjalanan dapat menaklukkan kebosanan, bahkan agaknya "melebihi kapasitas". Sebab lebih seperempat yang dalam bis adalah kaum wanita! Dan ternyata kaum wanita yang semuanya teman-teman dekat kami ini, kalau sudah bergurau - kalau sudah jauh dari rumah - kalau sudah agak
rebutan mau bicara - mau bercerita tentang yang lucu-lucu - humor - dan semua bahan tertawaan, maka terlihat dan terasa lebih muda-lah beberapa tahun! Dengan muka dan wajah merah tomat, tertawa gembira karena kelucuan ceritanya. Dan orang kalau sudah bercerita lucu, tentulah ada sedikit miring-miringnya. Tak apa, tokh kami semua senang mendengarkannya! Sehingga sopir kami mengingatkan agar sudah waktunya tidur dan lampu dalam bis dimatikan. Gila kan! Ngomong - cerita - ramai dengan tertawa - tahu-tahu sudah jam 05.00 dan belum mau juga tidur! Kami berangkat tadi pada jam 01.00.

Ketika itu saya katakan, baru kali inilah saya menemukan begitu banyak cerita yang saling ejek antara orang Manado sesamanya - dan orang Batak sesamanya. Biasanya yang saya dengar selalu dari suku Jawa atau suku Minang atau Arab atau Cina. Dalam cerita dan gurauan itu secuilpun tak ada yang merasa terhinakan atau menyakiti hati kesukuan. Karena yang bercerita dan menceritakan itu adalah orang-orang itu juga! Antara orang Gorontalo - Tomohon - Manado dan sekitarnya. Ada antara orang Manado versus orang Batak. Tapi tetap berisi kelucuan tanpa penghinaan dan pelecehan kata-kata. Sekali ini saya "terkepung" oleh orang-orang Manado dan Batak. Sebab hanya saya sendirian dari suku Melayunya!

Dan perjalanan kami dengan bis ini, ada rentang waktu yang saya selalu katakan buat diri saya sendiri. Yaitu saya masuk-sorga dalam beberapa puluh menit dan menit. Sebab ketika kami persis menyusuri Sungai Donau yang membelah beberapa negara Eropa, seperti Austria - Jerman - sedikit masuk Honga-
ria - maka panitya yang dalam bis, memutar lagu An Der Schonen Blauen Donau dari komponis-dunia, Johann Strauss. Lagu ini sudah berusia ratusan tahun tapi masih tetap sangat indah. Mendengarkan lagu Blauen Donau secara biasa sehari-hari dengan mendengarkan lagu Blauen Donau ketika kita berada
di sampingnya - sedang menyusurinya - di bibir sungainya- alah mak jang!
Bukan main indahnya - bukan main sakralnya - dan itulah yang saya katakan, saya sedang masuk-sorga ketika itu. Saya sangat - sangat bersyukur, karena dikaruniai perasaan dan kejiwaan yang sangat bisa menikmati hidup ini. Setiap hari selalu saya masuk-sorga dalam beberapa menit atau puluh menit bila sedang asyik nikmat mendengarkan musik - menikmati lukisan - membaca puisi yang sangat indah dari para penyair yang saya senangi. Ketika itu saya sangat menikmati lagu An Der Schonen Blauen Donau sambil jalan di bibir Sungai Donau.
Sungai Donau terbagi dua. Yang aslinya dan yang modern. Banyak bangunan kekinian - kapal-motor - restaurant-terapung - panggung di pinggir pantainya yang semuanya dengan alat-modern kekinian.

Tetapi yang aslinya, masih dipertahankan sebagaimana ratusan tahunnya dulu. Dan kami kebanyakan teman-teman saya masih tetap menyukai yang lama - yang aslinya. Perjalanan ratusan kilometer - kini ketika itu bukan main senang-bahagianya, kami menikmati Donau di atas rentang badannya yang asli. Rasanya ketika itu belum lama benar ada dan eksisnya komponis besar Johan Strauss itu - yang banyak digelari orang sebagai raja-wals - Raja Walsa.
Kami akan segera memasuki negara Austria yang dulu betapa besarnya. Tetapi karena perang dan perang, sejumlah 90% wilayah asalnya hilang. Dan kini Austria kini hanyalah 10% dari wilayah semulanya sebelum perang. Yang kini sebagian menjadi Jerman-Prusia dan beberapa pecahan negara-negara lainnya.

-------------------------------------------------------------------------------

Holland,- 27 Oktober 03,-


Sobron Aidit :
 

KISAH SERBA-SERBI
( Hari Sumpah Pemuda -
seri dua )



Ralat :
pada seri satu ada kesalahan tulis.
Dalam bis kami, tigaperempat pe-
numpangnya adalah kaum wanita. Dan
seperempatnya kaum pria. Tadi jumlah-
nya terbalik,- Jadi mayoritas adalah kaum
wanita,-


Sudah saya perbaiki perkara jumlah penumpang bis yang kami tumpangi.
Perkara jumlah kaum wanita ini, tampaknya sangat dominan. Sebab pimpinan Perki kami di Almere, mayoitasnya adalah kaum wanita - termasuk Ketua Umumnya. Tetapi mengapa demikian? Tak ada persoalan penting karena memang kami yang memilihnya secara demokratis. Dan mereka sanggup memimpin majelis - umat anggota ke-Kristenannya dari segi organisasi.

Para peserta HSP di Wina, berdatangan dari Denmark - tuanrumah sendiri - dari Wina - Austria - Belanda - Perancis - Jerman - Italia-Roma dan Indonesia. Sekali ini HSP yang kami adakan yang sudah ke-tigakalinya ini - dan HSP yang ke 75 ini, pihak KBRI, saya lihat berperanan sangat penting. Turut secara langsung - bahkan bukan lagi sebagaimana saya lihat ketika di Berlin tahun lalu. Dulu KBRI banyak membantu. Tetapi kini rasanya benar-benar rekan sekerja yang sama-sama bagi rata! Dua anggota panitya yang boleh dikatakan sebagai poros pimpinannya adalah Sekretaris pertama dari KBRI Vienna : Damos Dumoli Agusman. Lalu "seksi sibuknya" Gonti Sitohang,- dua-duanya ini orang Batak. Dan mereka sangat aktive - menyenangkan dan ramah serta terbuka. Termasuk terbuka kalau sedang marah dan ngomel! Tetapi kami semua sangat menyenangi mereka. Seorang staf KBRI - yang berbadan tinggi-besar sangat aktive membantu pekerjaan panitya. Saya kira tadinya beliau ini orang Austria (?), tapi bahasa Indonesianya sangat lancar dan mudah berkomunikasi.
Semua seksi berjalan lancar dan antara kami para peserta yang berdatangan dari berbagai penjuru Eropa itu, merasakan keakraban satu sama lain. Padahal baru kali itulah bertemu. Dan tidak sedikit di antara mereka - antara kami - yang sudah puluhan tahun di Eropa. Teman sekamar saya yang dari Denmark itu sudah tinggal seperempat abad di Denmark. Akh, saya kira tidak usahlah menghitung orang lain begitu! Wong saya sendiri sudah 21 tahun di Paris dan 40 tahun di luarnegeri sebagai - apa ya - ada yang bilang kaum kelayaban,-

Seksi wisata - nah, beliau ini pandai sejarah dan aktive membawa kami ke mana-mana. Hari itu saya sangat heran - pasaran dan jalanan penuh orang. Dan ramai sekali dan banyak orang Austria yang berpakaian bagus-bagus dan tradisional.
Bagaikan ada perayaan. Ternyata setelah saya tanyakan, memang hari itu adalah hari nasional Austria - 17 Agustusnya kalau di kita - dan 14 Juli-nya Perancis.
Dan saya tiba-tiba kecanduan mau minum anggur-merah yang dihangatkan!
Nggak hujan nggak angin - saya ketika itu sangat merasa senang - enak - dan kok tahu-tahunya mau minum anggur hangat. Anggur hangat sering saya minum ketika masih hidup di Tiongkok. Rasa anggur yang dihangatkan menurut saya jauh lenih enak lebih sedap daripada anggur merah biasa. Sayang di Perancis tidak saya temui atau belum saya dapatkan minum anggur hangat.

Hari pertama kami tiba di Wina, katanya hari itulah jatuh salju yang pertama pada musim dingin ini. Tetapi ternyata cuaca Wina - Austria tidak seperti Belanda.
Tidak sangat terasa dingin yang menggigit dan menusuk tulang. Kalau di Belanda - rasa kedinginan itu akan sangat terasa. Dan hari kedua dan selanjutnya - cuaca matahari sangat terang-benderang. Dan kami menikmati kota Wina yang berpenduduk sekitar sejuta orang itu. Dan Sungai Donau sangat indah - tenang - dan bagaikan kaca jernih.
Dan suasana begitu akan bertambah asyik-masyuk kalau diiringi dengan lagu-lagu klasik oleh para komponis Austria selain Johan Strauss.

Sambil jalan sambil bertegursapa dengan penduduk. Tidak seperti di Paris,
penduduk Wina saya kira tidak banyak kesulitan buat menerima orang lain berbahasa Inggris dengannya. Mereka rata-rata mengerti bahasa Inggris juga bahasa Perancis. Bahasa pokok mereka adalah bahasa Jerman - sedikit bahasa Itali. Ketika kami meratai jalanan di kota Wina dan Tulln, kami - apalagi dengan teman-teman saya para wanita ini - sangat suka masuk toko keluar toko - walaupun tidak beli apa-apa. Kata kami cuci-mata, karena lelah dalam sidang seharian mendengarkan pidato dan diskusi. Dan ternyata harga-harga di Wina lebih mahal daripada di Belanda dan Perancis.

Ketika dalam sidang, kami dengan tekun mengikuti makalah Pak Mubyarto dengan risalahnya "Ekonomi Pancasila Menggugat Kebudayaan Neo-Liberal". Sebelum itu makalah dari Drs Mangasi Sihombing dengan risalah "Peranan PERKI se-Eropa Kini Berkaitan Dengan Sumpah Pemuda Sebagai Dasar Lebih Memahami NKRI".
Sebagai pembukaan acara Sidang HSP, Duta-Besar RI di Austria dan Slovenia yang berkedudukan di Wina, dan juga yang membuka Sidang HSP, T.A. Samodra Sriwijaya, membawakan makalahnya "Sumpah Pemuda dan Maknanya Untuk Indonesia Kini".
Semua makalah, kami bicarakan dalam diskusi kelompok. Dan hasilnya sangat membawa masukan buat arti-tujuan Sumpah Pemuda. Rasanya enak dan cukup santai.
Sehabis diskusi ada acara rekreasi menjelajahi kota musik-dunia ini. Melihat dan menyaksikan istana raja-raja zaman dulu yang kini sudah menjadi musium buat dikunjungi para pendatang dan turis dari berbagai negara dan negeri. Dan melihat ke belakang ketika raja-raja pembuat sejarah - termasuk seperti kisah permaisuri Ratu Sisi yang sudah difilmkan dan dibuat juga filem kartonnya yang sampai kini cukup digemari cerita sejarahnya.

---------------------------------------------------------------------

Holland,- 27 Oktober 03,-

 

index Koinonia PERKI setempat Arsip Impressum

Situs PERKI di Eropa

Perki Belgia
Perki Inggris
Keluarga Kristen Net
Perki Aachen
Perki Darmstadt
Perki NRW
Perki Oikumene Frankfurt
Perki Matheus
Perki Almere
Perki Amsterdam B

Perki Eropa di Indonesia

Perki Eropa Jakarta

Evaluasi Kerja 2001-2003

Mengintip Kekuatan Politik Pemilu 2004  Abraham Runga Mali
Jurnalis, Mahasiswa Universitas Bonn dan Pengurus Perki Eropa

Dari Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2003 di Austria