|
POKOK-POKOK PIKIRAN TENTANG:
POLA DAN STRATEGI PEMBINAAN REMAJA PERKI
DUNIA DI SEKITAR REMAJA
Gereja Tuhan di dunia sedang memasuki pintu gerbang millennium ke III,
abad 21. Bagaimana gerangan corak kehidupan dan masyarakat abad 21 itu ? Ada macam julukan
yang diberikan oleh para ahli sosiologi, ekonomi dan futurolog bahkan teolog. Ralf
Dahrendorf (1959) menyebutnya masyarakat " pasca kapitalis". Setahun kemudian,
Walter Rostow (1960) menyebutnya masyarakat " pasca dewasa". Sepuluh tahun
kemudian, Alvin Toffler (1970) menyebutnya masyarakat " trans-industri" dan
" pasca ekonomi", dan pada tahun yang sama John Leonard menyebutnya masyarakat
berkebudayaan "pasca litereture". Daniel Bell (1973) menyebutnya masyarakat
"pasca industri". Masih banyak lagi, tapi tak perlu dikatakan semua itu di sini.
Tapi untuk mudahnya, kami menyebutnya seperti yang dikampanyekan oleh teolog masa kini
yakni era pasca modern ( post-modern era).
Corak dari era pasca modern ditandai oleh beberapa gelombang yang sifat
dan gejalanya global sungguhpun pemunculan dan dampaknya nasional dan lokal. Joe Holland,
misalnya memproyeksikan paling tidak lima faktor yang memberi ciri era pasca modern: (1)
revolusi mikroelektronik ( kontak yang integratip, komunikasi satelit, televisi,
elektronik mail), (2) interaksi global (singgle economy, singgle society), (3)
miniatuturisasi teknologi, (4) suatu kehidupan ekologis yang holistik tapi dinamis, (5)
peningkatan kreativitas dan spiritualitas masyarakat.
Tentu kita tidak bermaksud untuk mendiskusikan secara rinci ciri-ciri
masyarakat pasca modern sebagaimana diungkapkan Holland. Namun paling tidak, berbicara
mengenai gereja mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan di abad 21, maka kita tokh
tidak bisa tidak harus membicarakan gejala sosial masa kini yang menjadi ciri utama dari
masyarakat pasca moderen dimana para Remaja gereja sementara dan akan alami. Dalam hal ini
dapat dikemukakan paling kurang tiga gejala; yakni :
- Pluralisasi ( Berger )
- Kebangkitan kembali agama-agama ( para sosiolog atau futurolog )
- Jasa dan Niaga ( Dahrendorf, Weinstein)
Gelombang-gelombang ini sangat besar dan memiliki kekuatan pengaruh
terhadap kemapanan sosial yang telah terbentuk, sehingga dampaknya dapat terasa sampai
pada lapisan-lapisan sosial yang ada di belahan bumi manapun juga.
(1) Pluralisasi
Masyarakat dunia di era pasca modern menghadapi kenyataan pluralisme
agama-agama. Kelompok-kelompok agama yang tadinya dibatasi oleh tembok-tembok geografis,
kini dengan kehendak internal (sifat missioner) yang inheren pada agama itu maupun
kemungkinan external (kondisi sosial-politis dan ekonomis) yang tersedia, maka penyebaran
agama-agama semakin besar kemungkinannya dan semakin luas lingkungannya. Maka pluralisasi
tak dapat dielakkan oleh agama-agama, sehingga muncul apa yang disebut suatu dunia agama
majemuk ( religiously plural word).
Dalam dunia yang satu dengan penghuninya agama-agama yang berbeda-beda,
maka kemungkinan perjumpaan antar agama dan antar kepercayaan ( inter faith and
multi-faith encounters) tak dapat dihindari lagi. Pluralisme agama membawa umat manusia
pada kenyataan bahwa dunia yang kita diami ini adalah dunia agama-agama.
Dalam suasana perjumpaan antar agama dan kepercayaan ternyata ada dua
sikap yang saling bertentangan menjadi alternatip dari pemeluk agama. Sikap yang pertama
ialah sikap terbuka dan inklusip. Dengan sikap demikian maka dikembangkan suatu cara yang
hidup toleran terhadap agama lain. Sedang sikap yang kedua adalah tertutup dan eksklusip.
Dengan sikap ini dikembangkan suatu cara hidup yang tidak toleran dan agresip. Yang
pertama biasanya mengupayakan suasana hidup dialogis antar penganut agama, sedang yang
kedua mempertahankan sifat partikularistik agamanya.
Selain kemajemukan sosial, dengan pluralisasi dimaksudkan pula proses
individualisasi agama. Agama menjadi urusan pribadi dan psikologis.
(2). Kebangunan Kembali Agama-Agama
Pada era pasca modern bukan hanya pluralisasi agama yang terjadi tetapi
juga kebangunan kembali agama-agama. Kebangunan kembali agama boleh dikata terjadi pada
setiap agama historis dan universal, entah dalam bentuknya yang koservatip-fundamentalis
ataupun dalam bentuknya yang leberal-humanis. Dengan kenyataan kebangunan kembali
agama-agama menyatakan bahwa, pada satu sisi agama-agama tidak dapat dengan begitu mudah
dihapus oleh sekularisme, pada sisi lain agama-agama,yang oleh dorongan missioner yang
inheren dalam dirinya, tetap memiliki dorongan bermisi dan menuntut suatu tempat
tersendiri dalam kehidupan masyarakat.
Kebangkitan kembali agama-agama menandakan bahwa walaupun
industrialisasi dan modernisasi memiliki kemampuan mentransformasi kehidupan sosial,
budaya dan ekonomi dalam rangka kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat dengan penggunaan
ilmu dan teknologi, namun toh tetap memiliki keterbatasannya terutama dalam menjawab
masalah moral-etis masyarakat dan masalah spritual manusia. Sebaliknya, pada satu sisi,
adalah kenyataan bahwa agama tetap dibutuhkan sebagai sumber sekaligus pegangan rohani
dari manusia. Pada sisi lain adalah kenyataan bahwa agama itu memiliki caranya tersendiri
untuk menjawab masalah-masalah yang tak sanggup dijawab oleh ilmu dan teknologi. Ada
dimesi-dimensi potensial pada agama yang sangat sulit dikesampingkan, terutama ketika ia
berfungsi untuk menjawab masalah-masalah moral, etis dan spiritual masyarakat dan manusia.
Agama tetap memiliki fungsinya tersendiri, yakni sosial dan spiritual. Melaksanakan fungsi
sosial, maka agama berfungsi untuk memberi tuntunan dan ayoman moral-etis pada masyarakat.
Sedang fungsi spiritualnya ialah, agama berfungsi untuk memberi tuntunan rohani kepada
seorang individu. Pendeknya, dengan kebangunan kembali agama adalah indikasi bagi kita
bahwa konsern religius pada era pasca modern akan beralih dari apa yang disebut oleh
Holland dari industrial pietistic ke ecological-mystical. Sejauh revolusi industri
komunikasi merembes sampai kepelosok manapun dengan suasana keterbukaan, maka sejauh itu
pula gajala-gejala sosial tingkat global akan berdampak ke tingkat nasional maupun lokal.
Dengan pembangunan dan keterbukaan masyarakat pada gobalisasi, maka dengan sendirinya
adalah keterbukaan pula pada perubahan dan gejala sosial yang disebutkan itu.
(3). Jasa dan Niaga
Masyarakat era pasca modern ditandai pula oleh budaya jasa dan niaga.
Strata sosial masyarakat pasca modern akan dipengaruhi banyak oleh, pada satu pihak, cara
hidup pegawai kantor, dan pada pihak lain gaya hidup wiraswastawan ( masyarakat kelas
menengah). Tapi strata masyarakat ini tidak lain adalah mereka yang disebut " pekerja
berdasi" (White collar). Dengan kata lain, masyarakat pasca modern adalah masyarakat
jasa dan niaga.
Bagaimana corak masyarakat jasa dan niaga ? Weinstein (1983)
menyebutkan paling kurang lima hal : Pertama, adanya tuntutan peningkatan mutu kesehatan
fisik manusia. Berkembangnya ilmu kedokteran serta merta pula menuntut adanya peningkatan
mutu pelayanan kesehatan itu. Kedua, kebtuhan pelayanan transportasi yang semakin effisien
dan effektif. Miningkatnya kesibukan jasa dan niaga menuntut adanya transportasi yang
canggih, Ketiga, kebutuhan adanya pelayanan komunikasi yang effisien dan cepat. Akan
meningkatnya pelayanan pos dengan cara elektronik. Ke-empat, meningkatnya kebutuhan akan
waktu senggang. Semakin sibuknya orang dan semakin mekanistisnya kerja dan hidup,
kebutuhan akan waktu senggang semakin meningkat. Masyarakat semakin membutuhkan hiburan
(entertainment). Ke-lima kebutuhan akan keluarga kecil, ekonomis dan effesien masih
dipertahankan. Namun pada satu pihak gejala perceraian akan meningkat, tapi pada pihak
lain lembaga perkawinan mengalami perubahan.
Menghadapi perubahan dan gejala-gejala sosial seperti diungkapkan di
atas, maka serta merta pula menuntut para pembina remaja untuk meingkatkan sikap peka
membaca tanda-tanda zaman pada satu pihak, tetapi juga kemampuannya memberi respons kepada
Allah yang menyatakan diri lewat peristiwa dan perubahan sosial itu.
Memperhatikan uraian di atas maka jelas dalam era pasca modern terjadi
transformasi yang meliputi segala segi kehidupan manusia, masyarakat . Ada banyak cara
untuk mengamati transformasi itu. Namun di sini saya hendak lebih memberi perhatian pada
masalah transformasi nilai.
Memang harus diakui bahwa ada nilai-nilai yang universal, yang dibawa
baik lewat arus informasi. Tetapi tidak dapat disangkal pula, bahwa ada nilai-nilai khas
yang dengan sengaja dibawa untuk dialihkan kepada orang/kelompok lain. Hal ini sejalan
dengan trend akhir-akhir ini yang sedang berlangsung di dunia umumnya , yaitu
kebangkitan agama-agama. Selain itu kalau kita mengamati dalam konteks Indonesia, Islam
sedang mengalami kebangkitan, seperti ditandai oleh semakin maraknya kegiatan dakwah; hal
mana membuat DR Nurcholis Madjid meramalkan bakal "tampilnya umat Islam sebagai
komunitas yang akan menyaingi komunitas lain. Mereka mulai menyaingi tingkat establishment
yang telah diwariskan dari masa kolonial dulu". Meskipun ada di kalangan cendekiawan
Islan sendiri, seperti Jalaludin Rachmat, yang melihat gejala ini sebagai culture pop
yang sifatnya dangkal, toh ia masih mengatakan bahwa trend ini masih akan
berlangsung sampai 10 tahun mendatang. Namun yang pasti, para penulis buku terlaris dekade
terakhir ini, John Naisbit dan Patricia Aberden, dalam buku mereka Megatrend 2000,
meramalkan semakin meluasnya kebangkitan agama-agama di dunia di tahun 2000-an.
Jadi, percaturan nilai sedang dan akan berlangsung terus, malah dalam
tempo dan volume yang makin meninggi, apalagi pada era pasca modern. Sebab pada saat
manusia sudah mencapai kepuasan material, maka ada dorongan untuk mengejar kepuasan non
material. Dan ini berarti masalah nilai. Apa akibatnya bagi manusia? Ada empat
kemungkinan: Pertama, yaitu manusia mengambil keputusan untuk melepaskan
nilai-nilai yang dianut dan dijunjungnya selama ini, untuk kemudian menerima nilai-nilai
yang baru. Kedua, manusia menolak nilai-nilai yang baru dan mati-matian
mempertahankan nilai-nilai yang sudah mereka miliki. Ketiga, manusia menjadi
bingung untuk memilih hingga mengalami apa yang dise-but goncangan kebudayaan (culture
shock). Akibat lebih jauh adalah kehilangan jatidirinya (identitas) sebab nilai budaya
adalah "rumah" atau "jangkar" bagi kehidupan manusia. Suasana bingung
memilih mengakibatkan ia kehilangan rumah atau jangkar, hingga terombang-ambing kian
kemari. Keempat, manusia menyaring nilai-nilai yang baru itu, lalu diadaptasikan
dengan nilai-nilai yang dianutnya. Yang diambil dari nilai-nilai yang baru adalah hal-hal
yang dirasa perlu dan baik untuk diterapkan. Tentu saja kita akan memilih sikap yang
keempat, yaitu menyaring mana nilai yang baik dan cocok. Tetapi untuk menentukan nilai
mana yang baik, juga merupakan persoalan tersendiri. Hal ini yang akan menjadi perhatian
kita dalam bagian selanjutnya.
MENGAMATI PERCATURAN NILAI
Tadi sudah banyak kita bicarakan tentang kemungkinan-kemungkinan
percaturan nilai. Tetapi kita belum membicarakan nilai-nilai itu sendiri. Dalam bagian ini
setelah kita berbicara tentang nilai-nilai tersebut, barulah kita berbicara tentang sikap
kita mengenai nilai-nilai tersebut.
Secara umum, sistem nilai budaya dari semua kebudayaan di dunia,
berbicara tentang lima masalah pokok dalam kehidupan manusia. Kelima masalah dasar itu
menyangkut (a) hakekat hidup, (b) hakekat kerja/karya, (c) pandangan tentang waktu, (d)
pandangan manusia terhadap alam, dan (e) hakekat hubungan antar manusia. Isi atau arah
dari nilai-nilai budaya itu dikategorikan dalam tiga golongan seperti tercantum dalam
tabel I.
Tabel I
Kerangka Mengenai Lima Masalah Dasar Dalam Hidup Yang Menentukan
Orientasi Nilai-Budaya Manusia
Masalah Dasar Dalam Hidup
|
Orientasi Nilai Budaya |
Hakekat hidup (MH) |
Hidup itu buruk |
Hidup itu baik
|
Hidup itu buruk tapi manusia wajib
berusaha agar hidup itu menjadi baik. |
Hakekat Karya (MK)
|
Karya itu untuk nafkah hidup |
Karya itu untuk kedudukan, kehormatan,
dsbnya.
|
Karya itu untuk
menambah karya |
Pandangan manusia ttg waktu (MW)
|
Orientasi ke masa kini |
Orientasi ke masa lalu |
Orientasi ke masa depan
|
Manusia tunduk pada alam yang dahsyat |
Pandangan manusia terhdp alam (MA) |
Manusia berhasrat menguasai alam
|
Manusia berusaha menjaga
Keselarasan dengan alam |
Orientasi horizontal, ketergantungan
kepada sesamanya (berjiwa gotong-royong) |
Hakekat hubungan antar manusia (MM) |
Individualisme menilai tinggi usaha atas
kekuatan sendiri |
Orientasi vertikal, ketergan-tungan kepada
tokoh-tokoh atasan dan berpangkat |
Inilah kemungkinan nilai-nilai yang diperhadapkan kepada para remaja
mulai sekarang ini. Bagi kita, orang Kristen, nilai yang pantas dipegang dan menjadi
pedoman untuk pengambilan keputusan adalah nilai-nilai etis kristiani. Nilai-nilai etis
kristiani itu didasarkan pada kehendak, rencana dan tindakan Allah; sebagaimana hal itu
telah dinyatakan dalam hidup dalam pelayanan Yesus Kristus, seperti disaksikan di dalam
Alkitab. Sebenarnya pokok ini terlalu luas untuk dibicarakan di sini, tetapi baiklah kita
batasi saja dalam rangka menyoroti sistem nilai sebagaimana telah diutarakan dalam bagian
sebelumnya.
Mengenai hakekat hidup, ada tiga pandangan. Pertama bahwa hidup itu
buruk. Pandangan ini dapat juga disebut sebagai pandangan yang fatalistik. Sikap
yang menyerah pada nasib. Menurut kesaksian Alkitab, pada hakekatnya manusia dan hidup ini
telah diciptakan oleh Allah dengan baik adanya (Kej. 1 dan 2). Tetapi, hidup ini sudah
menjadi buruk, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3). Namun dalam Yesus
Kristus hidup manusia diperbarui lagi, hingga di dalam Dia, hidup ini menjadi berarti
lagi. Sebaliknya pandangan bahwa hidup itu baik, adalah sikap yang optimismenya
keterlaluan. Sikap ini tidak sesuai dengan kenyataan yang kita lihat sehari-hari bahwa
hidup ini tidak sepi dari pelbagai tantangan. Orang yang melihat hidup ini serba baik,
akan menjadi orang yang manja dan cengeng terhadap kenyataan hidup. Pandangan seperti ini
juga tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab, yang menegaskan bahwa dosa telah menjadi
bagian dari pergumulan hidup manusia. Namun, karena Allah jugalah yang memberi kemungkinan
di dalam Yesus Kristus, hingga hidup kita dibarui. Jadi, atas karunia Allah pula, maka
hidup ini, yang telah dirusak oleh dosa, sesungguhnya masih dapat diperbaiki.
Masalah kedua, yakni menyangkut pandangan tehadap karya atau kerja.
Tabel di atas menunjukkan bahwa ada orang yang berpandangan bahwa kerja itu hanya untuk
nafkah hidup. Pandangan yang demikian, menurut kesaksian Alkitab, terlalu sempit. Sebab
"manusia hidup bukan dari roti saja...."(Mat. 4 : 4). Manusia yang hidup hanya
untuk makan, tidak berbeda dengan hewan. Hewan itu hidup hanya untuk mengkonsumsikan apa
yang ada. Jadi, gejala konsumerisme sebenarnya disebabkan antara lain oleh pandangan hidup
yang seperti ini. Kelebihan manusia dari pada hewan adalah bahwa ia hidup lebih dari pada
sekedar untuk makan. Kalau ternyata melebihi dari sekedar untuk makan, lalu untuk apa?
Apakah mungkin seperti yang kita lihat dalam tabel di atas, yakni bahwa karya itu untuk
kedudukan, kehormatan dan yang sejenisnya? Tidak! Sebab pandangan hidup ini akan membuat
orang egoistis, lebih menentingkan diri sendiri. Akibat dari pandangan hidup seperti ini
adalah, orang akan berkarya mati-matian hanya untuk kepentingan dan kepuasan diri sendiri.
Dan kalau nafsu itu diperturutkan maka terjadilah apa yang disebut hedonisme, snobisme,
dan sebagainya. Hedonisme adalah suatu pandangan hidup yang melihat bahwa hidup ini
hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginan sendiri. Sedangkan snobisme adalah gaya
hidup yang berorientasi kepada gengsi atau prestise. Pameo orang Manado yang terkenal
"Biar kalah nasi asal jang kalah aksi" sebenarnya merupakan gejala snobisme.
Inilah gaya hidup yang demi gengsi terpaksa "besar pasak daripada tiang"; atau
kendati cuma jual binyolos mengaku diri raja cengkeh.
Apakah dengan demikian, sikap yang kristiani adalah berkarya untuk
menambah karya? Pada satu sisi ada kebenarannya. Tetapi masih harus dipertanyakan,
berkarya untuk apa? Rasul Paulus kepada jemaat Korintus (I Kor. 12), berbicara tentang
karunia-karunia yang diberikan oleh Allah kepada jemaat. Pada bagian akhir dia berpesan
agar berusaha "untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama". Keutamaan
itu nampak dalam hal bahwa semua karunia itu dipakai untuk saling melayani satu sama lain.
Tetapi kemudian Paulus menunjukkan apa yang disebutnya sebagai "jalan yang paling
utama", yaitu kasih (I Kor. 13). Dalam terang pemahaman ini, maka kita menambah karya
bukan untuk sekedar menambah, yang nantinya bisa menyeret kita pada gejala hedonisme.
Tetapi kita berkarya untuk menambah karya agar kita dapat menggunakannya bagi pelayanan
kepada sesama. Sebab tugas kita adalah untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati,
jiwa, tenaga dan akal budi; dan mewujudkan kasih itu kepada sesama kita, seperti kita
mengasihi diri sendiri. Perhatikanlah bahwa berkarya berarti mengasihi. Dalam rangka itu
pulalah kita hendaknya memahami perumpamaan Yesus tentang talenta, yang perlu dibungakan.
Pembungaan talenta bukan untuk keuntungan diri, melainkan untuk mengasihi. Dan dalam
pemahaman etik inilah kita merasa bertanggungjawab untuk bersama-sama menanggulangi
kemiskinan.
Pandangan tentang waktu. Iman Kristen jelas berorientasi pada masa
depan. Kita tidak hidup dari masalalu, atau hanya untuk masakini. Orang yang hidup dari
masalalu, hanya akan bernostalgia tentang kesenangan yang telah lalu, yang sebenarnya
telah pergi untuk tidak kembali. Atau sebaliknya terlarut dalam kepedihan di masa lampau.
Mereka yang berorientasi pada masa kini, akan cenderung menjadi orang yang hedonistis.
Sikap yang tak suka menabung, sikap "kalu ada tada, kalu nyandak haga"
sesungguhnya berpangkal pada pandangan tentang waktu yang lebih menekankan pada masa kini.
Kalau begitu, apakah dengan sendirinya sikap yang berorientasi ke masa depan adalah yang
kristiani? Belum tentu! Memang Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini terarah ke
masa depan. Tetapi masadepan itu ditentukan oleh apa yang kita buat sekarang ini. Dan
apapun yang kita lakukan sekarang ini, berpedoman atau berpolakan pada tindakan-tindakan
Allah di masa lampau, seperti disaksikan dalam Alkitab.
Pandangan kristiani tentang alam sering dianggap mendua. Pada satu
pihak, Alkitab berbicara tentang "... penuhilah bumi dan taklukanlah...." (Kej 1
: 28); tapi pada pihak lain dikatakan bahwa "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan
menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu" (Kej. 2
: 15). Jelas, bahwa sikap takut kepada alam, sama sekali tidak alkitabiah. Lalu, yang mana
yang hendak kita ikuti? Jawaban saya adalah kedua-duanya, seperti dimaksudkan oleh
Alkitab; tergantung pada situasi dan kondisi. Kalau alam itu perlu diperkembangkan karena
tidak subur atau mengancam keselamatan umat manusia, maka tidak ada jalan lain daripada
menaklukannya. Kalau alam itu memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, menjadi tugas
manusia untuk memelihara dan mengolahnya.
STRATEGI DAN POLA PEMBINAAN REMAJA PERKI
Persoalan sekarang bagi kita adalah apa yang harus kita lakukan
menghadapi tantangan tersebut di atas? Ada pelbagai bentuk pelayanan kelengkapan yang
dapat kita lakukan. Tetapi kita memerlukan strategi yang memadai dengan tuntutan
perkembangan . Ada beberapa langka yang ingin saya kemukakan untuk memobilisasi remaja
Kristen untuk menghadapi tantangan tersebut.
Gerakan Panca Sadar
Salah satu langkah strategis untuk memfungsikan pembinaan remaja adalah
lewat program Gerakan Panca Sadar. Gerakan Panca Sadar adalah suatu gerakan yang dilandasi
oleh kesadaran akan lima dimensi (matra). Sadar di sini berarti suatu keadaan di mana
manusia berada pada tingkat tahu, mau dan mampu untuk melaksanakan sesuatu.
Lima matra yang dimaksud adalah gatra firman dan doa, ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK), lingkungan (baik dalam arti ekologis maupun sosiologis), ekonomi, dan institusi.
Kelima matra tadi tak dapat dipisahkan satu terhadap yang lain. Sadar Firman dan doa harus
menjiwai keseluruhan kemanusiaan dari setiap warga gereja serta segala sesuatu yang ada
kaitan dengan hidupnya, yakni masalah iptek, lingkungan dan ekonomi. Untuk dapat
mewujudkan kesadaran itu, maka warga remaja memerlukan satu institusi, sebagai tempat
diadakannya gerakan itu secara bersama. Sadar institusi juga mencakup kesadaran bahwa
PERKI adalah Tubuh Kristus, hingga kelompok PERKI yang satu juga perlu memperhatikan
kelompok PERKI yang lain.
Secara sederhana bisa dijelaskan begini: Sadar Firman dan doa kita
lukiskan mulai dari kepala sampai ke kaki dari manusia. Sadar IPTEK adalah bagian kepala
dari remaja PERKI. Sadar lingkungan, baik dalam arti kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara maupun lingkungan hidup adalah bagian dada. Sadar ekonomi adalah bagian
perut sedangkan sadar institusi adalah bagian kaki.
Menurut saya, strategi pelayanan kristiani yang diperlukan sekarang ini
adalah pemaduan akan berbagai bentuk baik yang tradisional dan yang baru. Strategi ini
pada hakekatnya mengarah pada pemberdayaan remaja yang bertujuan untuk menumbuhkan
kedewasan dalam bersekutu. Untuk itu diciptakan iklim atau suasana yang memungkinkan
potensi remaja berkembang, sebab setiap anggota remaja mempunyai potensi yang dapat
dikembangkan. Pemberdayaan berarti membangun daya itu dengan mendorong, memotivasikan dan
membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk
mengembangkannya.
Menyimak akan hal ini, kita bisa mengatakan bahwa Gerakan Panca Sadar,
bila dilihat dari kacamata strategi pelayanan kristiani berarti upaya untuk memberdayakan
remaja di satu pihak dan warga persekutuan di pihak lain. Pemberdayaan itu menyangkut
segi-segi spiritualitas (sadar firman dan doa), intelektual dan ketrampilan (sadar iptek),
lingkungan hidup dan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara (sadar
lingkungan), ekonomi dan semangat untuk berjuang bersama-sama (sadar institusi). Hanya
dengan pemberdayaan itu maka warga remaja/persekutuan akan mampu menghadapi era yang penuh
persaingan sekarang ini.
Sasaran dari Gerakan Panca Sadar menyangkut dua sisi. Pada satu sisi
dalam rangka strategi pengembangan persekutuan PERKI menjadi persekutuan mandiri yang
misioner. Pada sisi lain GPS dimaksudkan sebagai upaya untuk memperlengkapi remaja secara
pribadi dan keluarga untuk mampu berperanan sebagai orang Kristen dalam kehidupan
sehari-hari.
Bila dilihat dalam kerangka strategi pengembangan PERKI sebagai
persekutuan, maka sasaran GPS adalah juga untuk mengembangkan atau mempertahankan posisi
PERKI menjadi persekutuan yang mandiri yang misioner. Kemandirian suatu persekutuan
dilihat dari segi teologi, daya dan dana. Kemandirian bukan sekedar
berarti mampu mengurus diri sendiri, tetapi juga dapat membantu pengembangan persekutuan
PERKI
Keadaan PERKI menurut pengamatan saya dewasa ini dapat dipetakan atas
(a) PERKI mandiri satu (b) PERKI mandiri dua (c) PERKI mandiri tiga, (d) PERKI mandiri
empat. Kenyataan bahwa semua PERKI sudah mampu mengorganisasikan diri mereka sendiri sudah
merupakan suatu petunjuk bahwa semua sudah mandiri. Namun dari segi-segi lain yang
mencakup teologi, daya dan dana masih ada perbedaan-perbedaan.
PERKI mandiri satu adalah yang karena alasan-alasan pemahaman teologis
maka di sana masih rawan perpecahan, yang ditandai oleh adanya pelbagai permasalahan
intern atau extern. Juga dapat dikur dari pemahaman teologis anggota-anggota jemaatnya
yang masih belum menyadari akan misi untuk bersekutu, bersaksi dan melayani. Secara dana
jemaat ini belum sanggup membiayai seluruh kebutuhannya, hingga memerlukan mitra dalam
arti bilateral maupun dari para warga. Hal ini antara lain dapat diukur dari besarnya
partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PERKI Se-Eropa. Kalau hendak dikuantifikasikan, masih
di atas limapuluh persen dari sumber dayanya masih didukung dari sumber luar. PERKI
mandiri dua dalam banyak hal masih mengalami permasalahan seperti PERKI mandiri satu.
Namun kalau dikuantifikasikan, sumbangan dari sumber luar untuk memenuhi kebutuhan
pengembangan teologi, daya dan dana di PERKI itu, kurang dari limapuluh persen. PERKI
mandiri tiga yaitu yang sudah mampu menyediakan sendiri semua sumber daya yang
diperlukannya, baik untuk pengembangan teologi, daya maupun dana. Hanya saja PERKI ini
belum mampu untuk melayani PERKI-PERKI lain, terutama PERKI mandiri satu dan dua, baik
karena alasan teologis yaitu pemahaman mengenai persekutuan umat yang berbuah masih belum
memadai, maupun karena alasan-alasan keterbatasan sumber daya dan dana.
Pengklasifikasian ini sifatnya dinamis. Artinya bahwa bisa saja PERKI
tertentu suatu waktu mengalami perubahan klasifikasi dari satu ke dua dan seterusnya, atau
dari empat ke tiga dan seterusnya. Dengan demikian misi pokok dari Gerakan Panca Sadar
adalah bagaimana supaya pada satu pihak meningkatkan kualitas seluruh PERKI hingga menjadi
persekutuan mandiri yang misioner. Tapi pada pihak lain, bagaimana mempertahankan mutu
yang sudah ada.
Bila dilihat dari segi Pembinaan Warga PERKI dalam hal ini remaja-nya,
maka GPS merupakan wadah latihan bagi warga remaja sebelum mereka terjun ke dalam kancah
perjuangan hidup mereka sehari-hari di keluarga dan di masyarakat. Maksudnya, apa yang
mereka alami dalam GPS bisa membekali mereka untuk melakukannya dalam hidup dan kerja
mereka sehari-hari. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa GPS merupakan salah satu
matarantai yang menghubungkan mata rantai ibadah dengan mata rantai kerja.
Untuk itu dalam program PERKI se-Eropa dapat ditargetkan bahwa
sekurang-kurangnya diakhir masa bakti pengurus PERKI Se-Eropa pada tahun ini, di setiap
PERKI sudah ada satu proyek percontohan Gerakan Panca Sadar. Gerakan itu dimulai dari
kelompok basis. Yang dimaksud dengan kelompok basis adalah pelayanan kategorial (
pelayanan kepada remaja ) . Pengalaman dari proyek percontohan itu kemudian disebar
luaskan ke semua, pelayanan kategorial. Ini berarti bahwa pelaku dan sasaran dari GPS
adalah kelompok basis itu sendiri.
Gerakan Panca Sadar bukanlah suatu institusi baru. GPS tinggal
mengembangkan atau meningkatkan kualitas dari kegiatan yang selama ini sudah ada di
masing-masing PERKI. Maksudnya adalah bahwa Gerakan Panca Sadar merupakan kelanjutan dari
ibadah-ibadah yang berlangsung . Dengan perkataan lain GPS hendak menjadikan
kegiatan-kegiatan peribadatan, dari bicara-bicara tentang firman menjadi berbuat karena
firman. Atau Dari Kelompok Yang Memahami Firman menjadi Kelompok Pelaku Firman.
Apa yang diuraikan tadi bisa dijelaskan begini: kegiatan pelayanan
kategorial ( Remaja ) itu bukan hanya tempat bagi para remaja untuk memahami firman,
tetapi sekaligus menjadi tempat latihan untuk menerapkan firman yang didengar. Diharapkan
bahwa setelah melalui proses latihan mengerjakan bersama-sama apa yang dipahami dari
alkitab maka warga kategorial akan mampu menerapkan firman itu dalam hidup sehari-hari.
Dengan demikian langkah-langkah penerapkan Gerakan Panca Sadar adalah
sebagai berikut: (1) Memahmi Alkitab dan kenyataan sosial serta berdoa secara bersama
untuk mendapatkan inspirasi dan motivasi bagi tindakan selanjutnya; (2) memilih kegiatan
yang dapat dilaksanakan secara bersama; (3) menjabarkan kegiatan itu ke dalam suatu
rencana kerja; (4) mengorganisasikan diri untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara
bersama; (5) melaksanakan dan mengevaluasi secara bersama kegiatan tersebut.
Trilogi Pembangunan Remaja
Mengapa mesti Trilogi atau Tritunggal atau tiga batu dodika atau
tiga batu tungku ( tiga " batu dodika"=Manado; "dalihan na
tolu"=Batak; "selotigo"=Jawa). Bagi orang Kristen berdoa bukan sekedar
meminta sesuatu kepada TUHAN. Berdoa bukan sekedar minta pengesahan dari TUHAN supaya DIA
meresmikan semua perbuatan atau kerja kita. Berdoa adalah meminta supaya kehendak TUHAN
berlaku atas kita. Doa yang Kristiani adalah Doa yang diajarkan oleh Yesus yang meminta
supaya "...Datanglah KerajaanMU, jadilah kehendakMU di bumi seperti di
sorga...." atau doa Yesus di taman Getsemani "...Janganlah kehendakKu,
Bapa, melainkan kehendakMUlah yang jadi...."
Dari mana kita tahu tentang kehendak TUHAN? Tidak lain dari Alkitab.
Oleh sebab itu berdoa dan memahami Alkitab tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Namun
demikian berdoa dan memahami Alkitab belum cukup. Boleh jadi ada orang yang mengatakan,
"ah, boleh saja memahami Alkitab lalu langsung mengamalkan apa yang tertulis dalam
Alkitab, melalui pekerjaan kita masing-masing." Berdoa adalah mengandalkan peranan
karya Roh. Rasul Paulus menegaskan, dalam doalah pekerjaan Roh dihayati. Hidup yang
mengandalkan pema-haman dan pengamalan berita Alkitab melalui kerja, tapi mengabaikan doa,
adalah kerja tanpa Roh, bagaikan sebuah mesin atau robot yang tak berjiwa, tetapi
produktif. Begitu juga, memahami Alkitab dan rajin berdoa tanpa bekerja akan membuat hidup
ini bagaikan "bonzai", kelihatan elok (=baca saleh) tapi sebenarnya kerdil dan
tidak memberi buah apa-apa. Tetapi hidup yang cuma berdoa dan bekerja tanpa memahami
Alkitab, laksana orang buta dan tuli yang mudah tersesat dan disesatkan, hingga segalanya
berakhir dengan kesia-siaan.
Penataan Demi Melaksanakan Trilogi Pembangunan Remaja
Penataan di sini berarti seluruh kegiatan untuk membenahi, mengatur dan
menyusun semua tenaga, sarana dan wadah pelayanan agar siap melaksanakan atau siap pakai
untuk penjemaatan atau pelaksanaan Trilogi Pembangunan Remaja. Penataan tenaga berarti
pelengkapan bagi para PEMBINA REMAJA, karena merekalah jalur strategis untuk
mencapai semua remaja PERKI, baik secara formal atau struktural maupun secara non formal
atau non struktural. Secara formal atau struktural berarti ada usaha-usaha terencana dari
para pembina remaja untuk mendaratkan Trilogi Pembangunan Remaja di kalangan remaja PERKI.
Secara non struktural atau non formal, berarti para pembina menjadi teladan bagi warga
remaja untuk melaksanakan Trilogi Pembangunan Remaja melalui PERKI masing-masing.
Penataan sarana dan wadah pelayanan berarti upaya untuk menggiring
semua bidang dan kegiatan pelayanan, baik yang tradisional maupun yang baru, agar
menunjang dan bahkan siap pakai untuk melaksanakan Trilogi Pembangunan Remaja. Di sini
saya kemukakan beberapa contoh:
Ibadat-ibadat: Seharusnya ibadat-ibadat di pelayanan kate-gorial
merupakan "salinan" dari ibadat minggu di Persekutuan. Menyalin berarti berita
Alkitab dalam ibadat hari minggu ke dalam si-tuasi dan kondisi nyata di antara para
remaja. Kalau dalam ibadat hari minggu warga Gereja pasif mendengarkan proklamasi mengenai
kehendak TUHAN, di pelayanan kategorial masing-masing warga remaja mempertanyakan apa yang
sudah saya buat untuk me-menuhi kehendak TUHAN Allah? Apa yang akan saya buat untuk
mengisi proklamasi tentang berlakunya kehendak TUHAN Allah? Dengan perkataan lain,
ibadat-ibadat pelayanan kategorial haruslah merupakan kesinambungan dari ibadat di hari
Minggu. Tegasnya ibadat pelayanan kategorial lebih baik ditekankan pada fungsi kelompok
Penelaahan Alkitab (PA) dan Pelayanan Doa sebagai kelanjutan dari ibadat Persekutuan hari
Minggu.
Liturgi. Banyak keluhan bahwa liturgi itu kaku. Menurut hemat saya
masalahnya bukan terletak pada liturgi tapi karena liturgi itu tidak kita kaitkan dengan
Firman yang hendak diberitakan. Cobalah perhatikan doa peng-akuan, doa syukur, doa
permohonan, dan doa syafaat; kedengarannya begitu-begitu saja, padahal berita Alkitab
selalu berbicara tentang hal-hal baru. Sesungguhnya bentuk liturginya saja yang kaku, tapi
isinya pasti tidak kaku kalau betul-betul berita Alkitab yang hendak dikhotbahkan
dijabarkan ke dalam rumpun-rumpun atau unsur-unsur liturgi.
Keluarga sebagai pelaksana Trilogi Pembangunan Remaja. Basis
pertumbuhan remaja adalah keluarga. Dalam rangka penjemaatan Trilogi Pembangunan Remaja,
keluarga adalah target utama. Hal ini akan ditandai dengan membudayanya kegiatan ibadat
keluarga. Guna menjawab kebutuhan ini, maka perlu masing-masing PERKI atau PERKI Eropa
menjadikan salah satu programnya menerbitkan Renungan Harian Keluarga. Untuk
itu jalur para Pendeta yang bertugas di Eropa didayagunakan dalam penyiapan materi ini.
Melaksanakan Trilogi Pembangunan Remaja.
Trilogi Pembangunan Remaja bukanlah program tahunan. Seharusnya TPR ini
menjadi program seumur hidup. TPR sudah dan sedang dilaksanakan apabila TPR sudah
membudaya dalam kehidupan warga Remaja. Semua tindakan yang dilakukan yang oleh karena
Wahyu dan Doa maupun karena proses belajar, itulah yang kita maksud dengan kebudayaan.
Bahwa Trilogi pembangunan Remaja sudah membudaya, akan kentara dari kehidupan remaja
secara pribadi, secara keluarga, selaku satu persekutuan bahkan sebagai PERKI.
Sebagai pribadi idaman antara lain dapat dicirikan warga Remaja yang
berperan di tengah-tengah masyarakat berlandaskan etos kristiani yang ditimba dan ditumbuh
suburkan oleh kerajinan memahami Firman dan berdoa setiap saat. Etos kerja yang kristiani
itu akan menjadi nyata dalam tekad untuk membangun kehidupan ini melalui proses yang
kristiani.
Oleh : Pdt.Roy E G. Lengkong.
Kembali ke atas
|