|
KASIH SEBAGAI AJARAN UNIVERSAL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN
Sebuah Pendekatan Filosofis *
Menanggapi langsung permintaan Panitia, tulisan ini memuat dua pokok bahasan: (1) Perkembangan paham “cinta-kasih” sebagai ajaran universal dari sudut filsafat dari Zaman Yunani Kuno hingga Zaman Modern; (2) Implemaentasi paham ini dalam kehidupan kristiani.
1. Apa itu cinta-kasih?
Meskipun seorang ahli filsafat bisa diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia sebagai “pencinta-kebijaksanaan” (philos-sophia), namun dari semua paham filsafat, istilah “cinta”, “kasih”, “cinta-kasih”, “sayang” atau “kasih sayang” mungkin merupakan paham yang paling sulit dijelaskan olehnya, sebab paham ini memiliki segi dan makna yang beragam. Adapun alasan yang menimbulkan keragaman ini adalah a.l. bahwa paham ini dikaji dan ditafsirkan bukan hanya oleh filsafat, melainkan juga oleh ilmu-ilmu lain, mulai dari ilmu pengamatan tingkah laku (Verhaltensforschung), biologi, kimia, sosiologi, psikologi dan agama. Secara praktis, keaneka-ragaman pendekatan terhadap paham cinta ini membuat kita terkadang bingung sendiri jika ia dikonfrontasikan dengan pertanyaan atau pengalaman apakah cinta itu.
Dari sudut filsafat, ada setidak-tidaknya tiga perkembangan pengertian cinta yang secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi sbb.:
Pertama: Cinta sebagai Daya atau Prinsip Alam Semesta. EMPEDOKLES (492-432 s.M.), misalnya, menghubungkan cinta dengan peristiwa pembentukan realitas di alam semesta. Ia berpendapat bahwa ada empat unsur pokok di alam semesta, yakni: air, tanah, api dan udara. Keempat unsur ini harus diterima sebagai unsur pokok, sebab menurut observasi panca indra keempat unsur ini kita jumpai dimana-mana. Udara, misalnya, adalah juga unsur alam tersendiri yang harus juga diterima selain api, air, tanah, dan udara dalam arti uap-kabut, sebab gejala-gejala adanya angin membuktikan itu. Nah, bagaimana kejadian dan benda-benda alam semesta bisa dijelaskan dari keempat unsur ini? Jawabannya: berkat dua daya, yakni Cinta (philotes) dan Benci (neikos). Cinta adalah daya yang mempersatukan keempat unsur, sedangkan benci daya yang menceraikannya. Benda-benda alam semesta terjadi, apabila kedua daya ini berperang. Peperangan akan membuat keempat unsur itu bercampur aduk, dan dari percampuran unsur-unsur dalam peperangan itu berasallah benda-benda konkrit.
Kedua: Cinta sebagai Daya atau Prinsip Abstrak (Ide). Berbeda dari Empedokles yang melihat cinta sebagai prinsip alam raya, PLATO (427-347 s.M) berpendapat bahwa cinta (eros) adalah daya kuat dalam diri manusia yang mendorong dan membawanya pada realitas yang sejati. Adapun realitas sejati dihubungkan dengan apa yang disebutnya “Ide-Ide”.
Apa itu Ide-Ide? Ide (eidos = gambaran) dalam pandangan Plato adalah hakikat atau gambaran pokok dan perdana dari segala sesuatu yang ada. Ide-Ide itu bersifat non-materiel, abadi dan tak berubah. Menurut Ide-Ide sebagai citra pokok inilah segala benda yang konkrit-kelihatan terbentuk dan mendapatkan wujudnya. Ide-Ide itu ada secara objektiv, artinya Ide-Ide itu ada begitu saja tanpa tergantung pada dunia pemikiran dan proses pencerapan indrawi kita. Begitu misalnya, hakikat sejati dibalik seekor singa dan sebuah segitiga adalah ada Ide singa, Ide segi tiga, dsb. Maka itu bersama Plato, kita bisa mengatakan ada “ke-singa-an”, “ke-segitiga-an”.
Selanjutnya Plato mengajarkan bahwa Ide-Ide itu tidak lepas satu dari yang lain. Ide (seekor) singa, misalnya, mempunyai hubungan dengan „Ide satu“, sedangkan „Ide satu“ sendiri mempunyai hubungan dengan „Ide ganjil“. Contoh lain: „Ide api“ mempunyai hubungan dengan „Ide panas“, dsb. Plato menamakan hubungan antara Ide-Ide itu „persekutuan“ (koinonia). Dalam bukunya, Politeia, Plato mengatakan bahwa antara Ide-Ide terdapat hirarki. Dan puncak dari segala Ide adalah Ide „y a n g b a i k“ (agathon). Ide „yang baik“ ini adalah Ide segala Ide dan karenanya secara kualitatif melampaui semua Ide lain. Ibarat matahari yang sinarnya membuat kita sanggup melihat dan mengenali segala sesuatu, demikian pun Ide „yang baik“ merupakan sebab segala pengetahuan dan kebenaran, dan karenanya berada lebih tinggi dan jauh lebih indah daripada segala pengetahuan dan kebenaran. „Betapapun indahnya pengetahuan dan kebenaran, masih jauh lebih indah daripadanya adalah Yang Baik“ (Politeia, 508e).
Berdasarkan ajarannya mengenai Ide-Ide ini, Plato menyatakan adanya d u a d u n i a, yakni dunia Ide-Ide yang hanya terbuka bagi rasio kita (= dunia rasional), dan dunia jasmani yang hanya terbuka bagi panca indra kita (= dunia indrawi). Di dalam dunia rasional tidak ada perubahan; perubahan hanya ada di dalam dunia indrawi yang memang memperlihatkan ketidakmantapan tanpa henti. Singa ini atau singa itu akan mati, namun singa pada umumnya, yakni Ide singa tinggal tetap. Begitu pula gambar segi tiga pada papan tulis bisa dihapus, tapi Ide segi tiga sama sekali tak terjamah. Kesimpulannya: Ide-Ide itu abadi.
Bagaimana „kedua dunia“ itu saling berhubungan? Menurut Plato, Ide-Ide adalah model (paradeigma) bagi pelbagai benda konkrit. Benda-benda konkrit merupakan gambaran tak sempurna yang menyerupai model tersebut. Kalau partisipasi (methexis) benda-benda konkrit itu pada Ide-Ide semakin besar atau kalau mereka semakin meniru dan semakin menyerupai Ide-Ide, maka semakin indah dan semakin baiklah benda-benda itu.
Untuk lebih memahami ajaran Plato tentang Ide-Ide dan teori dua dunianya perlu di-tampilkan di sini perumpamaan atau mite tentang gua yang kita temukan dalam bab ketujuh dari buku Politeia (= tentang Negara/Masyarakat).
Bayangkanlah! Ada sebuah gua yang gelap di bawah tanah. Di sana terdapat sejumlah tahanan yang terbelenggu sedemikan rupa, sehingga mereka tak mampu menggerakkan kepalanya dan akibatnya hanya bisa memandangi dinding gua. Di belakang mereka ada api bernyala. Antara api dan para tahanan itu ada jalan dimana budak-budak lalu lalang memikul pelbagai barang dan patung. Hal itu mengakibatkan rupa-rupa bayang yang dipantulkan pada dinding gua. Para tahanan menganggap bayang-bayang itu realitas sejati dan tak ada realitas lain. Namun setelah beberapa waktu salah seorang tahanan berusaha melepaskan diri dari belenggu dalam penjara itu. Ia berhasil dan lantas mengerti bahwa pemandangan yang selama ini ia lihat hanyalah bayang-bayang dari pelbagai benda yang dibawa para budak. Lalu ia berada di luar gua dan matanya membiasakan diri dengan cahaya; ia melihat pohon, sungai, gunung, rumah dan dunia nyata di luar gua. Paling akhir ia ia mendongak dan melihat matahari yang menyinari semuanya. Semula ia berpikir, ia telah meninggalkan realitas. Tetapi berangsur-angsur ia menyadari bahwa justru itulah realitas sebenarnya dan bahwa ia dulu belum pernah memandangnya. Akhirnya, ia kembali ke dalam gua dan mengatakan pada rekan-rekannya bahwa apa yang selama ini mereka lihat bukanlah realitas sebenarnya, melainkan bayang-bayang saja. Namun mereka tak mempercayai orang itu dan seandainya mereka tak terbelenggu, niscaya mereka akan membunuh setiap orang yang mau keluar dari gua itu.
Apa arti perumpamaan gua ini? Masa dipenjara itu ibarat hidup kita di dalam dunia in-drawi, dan para tahanan dapat disamakan dengan kebanyakan orang. Di dalam dunia indrawi itu pengenalan indrawi kita - kendati mengalami segala kemajuan - hanyalah gambaran atau pantulan tak sempurna (doxa = perkiraan atau maya) dari realitas sejati. Pelbagai barang yang dibawa oleh para budak belian adalah realitas indrawi. Namun realitas indrawi ini pun bukanlah realitas sejati, melainkan medium melaluinya Ide-Ide (realitas sejati „di luar gua“) hadir dan mendapatkan wujud konkritnya. Tetapi filsuf dapat dibandingkan dengan orang yang sudah terlepas dari gua tahanan itu. Sesudah ia dengan susah payah berusaha mengerti keadaannya, ia akhirnya menyadari bahwa segala sesuatu itu ia ketahui dan kenali berkat adanya matahari. Nah, matahari ini adalah simbol untuk „yang baik“, Ide tertinggi dan sejati yang menyoroti segala sesuatu. Tanpa „matahari“ sebagai Ide tertinggi dan sempurna tak ada sesuatu pun bisa dikenal.
Lalu, apakah yang mendorong tahanan itu untuk melepaskan diri dari alam maya? Plato menjawab: Cinta (eros)! Eros adalah daya kuat dalam diri manusia yang mendorong dan membawanya pada realitas yang sejati dan pada Ide „yang baik“. Eros membangkitkan dan mengobarkan api kerinduan dalam jiwa manusia untuk mencapai Ide „yang baik“ itu. Berkat eros, manusia tergerak untuk mengikhtiarkan kebaikan.
Ketiga: Cinta sebagai relasi inter-personal. Berbeda dari paham cinta menurut Plato yang terarah pada sesuatu yang abstrak dan dicita-citrakan (istilah populer: “cinta platonis”), paham cinta sebagai prinsip interpersonal dipengaruhi kuat oleh tradisi pemikiran YAHUDI-KRISTIANI. Menurut keyakinan yahudi, hakikat cinta adalah suatu peristiwa antara dua pribadi, yaitu Allah dan umatNya. Sebagai pribadi tentu saja baik Allah maupun manusia memiliki kebebasan. Atas inisiatifNya sendiri, Allah menawarkan cintaNya dalam bentuk perjanjian kepada Abraham dan keturunannya. Dan Abraham secara bebas mengamini tawaran cinta Allah itu dengan iman dan kesetiaan. Dari kenyataan bahwa umat dicintai Allah dan mereka menerima cinta itu, maka muncullah perintah untuk mencintai sesama yang juga dicintai Allah dalam perjanjian itu. Maka itu cinta pada sesama bagi orang yahudi, merupakan konsekwensi logis dari jawaban positif atas cinta dari dan kepada Allah (Contoh: Kesepuluh perintah Allah, didahului dengan pernyataan bahwa Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, Kel. 20, 1-17). Karena Allah mencintai saya dan saya mau menanggapi cintaNya itu, maka saya pun mesti mencintai juga sesama saya juga dicintai Allah. Singkatnya: Indikatif mendasari imperatif.
Di dalam Perjanjian Baru, cinta kepada sesama bahkan diradikalkan dan diperluas hingga menyangkut cinta kepada mereka yang tidak bisa membalas perbuatan kasih kita (Lk 6, 32; Mt 25, 35 ff), bahkan cinta kepada musuh (Lk 6, 27). Dasarnya adalah keyakinan orang Kristen bahwa akhir Zaman (eschaton), saat kedatangan Allah, sudah terjadi dengan peristiwa Yesus dan masih akan dijadikan untuh-sempurna kelak oleh Yesus Kristus. Maka di dalam bentangan waktu antara “sudah” dan “belum” ini, Yesus Kristus lantas menjadi bukan saja bukti nyata untuk melihat cinta Allah bagi manusia di dunia ini (Yoh. 3, 16), melainkan juga menjadi patokan bagi manusia untuk memberikan jawaban cinta kepada Allah dan kepada sesamanya. (Contoh: Cinta perkawinan (Efesus) atau cinta selibat)
Selanjutnya dalam Zaman Modern paham mengenai cinta dalam pengertian filosofis berkembang dan dipengaruhi – entah secara langsung atau tidak – oleh sudut pandang Yahudi-Kristen ini. Unsur-unsur cinta yang signifikan di dalam pandangan Yahudi-Kristen adalah: (1) inter-persona, artinya menyangkut hubungan pribadi, bukan hubungan kebendaan yang hanya mau “memliki”; (2) dan karena itu menghormati kebebasan dari pihak yang dicintai; (3) memerlukan kesetiaan, dan (4) pengurbanan. Unsur terakhir ini perlu ditekankan untuk mengatakan bahwa cinta itu bersifat „suci“ dan ilahi. Kata Latin untuk pengurbanan adalah „sacrificium“ yang akarnya terdiri dari kata “sacrum” (= suci, kudus, sifat Allah) dan “facere” (= berbuat, menjadikan). Dengan pengurbanan, cinta bukan saja menyucikan, membersihkan dirinya dari dorongan-dorongan egositsik melulu, melainkan juga memandang dan memperlakukan orang lain dengan penuh hormat dan takjub yang mendalam, – dua sifat yang manusia miliki jika ia berhadapan dengan Yang Ilahi. (menjadikannya “kudus”). Bdk. Yoh 15, 13: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
Semakin cinta kita memiliki keempat unsur di atas, semakin murni, baik dan bermutu cinta kita.
2. Implementasi dalam Kehidupan Kristiani
Karena bagi orang Kristen, Yesus menjadi sumber hidupnya, maka pribadi Yesus pun, hidup, karya dan ajaranNya, menentukan cara bagaimana orang Kristen hidup, bertindak dan mengamalkan cinta-kasihnya. Berikut ini adalah empat contoh untuk implementasi cinta dalam hidup dan panggilan hidup masing-masing.
Dalam hidup beriman: Hukum Utama (Mt 22,34-40; Mk 12, 28-34; Lk 10, 25-28)
Dalam hidup perkawinan: Kasih Kristus adalah dasar hidup suami-istri (Ef 5, 22-33).
Dalam hidup selibat: Kesaksian demi Kerajaan Allah Kini (Mt 19, 10-12) dan Masa Datang (Mk 12, 18-27)
Dalam hidup menjemaat: Banyak karunia untuk pembangunan satu Tubuh berdasarkan kasih (1 Kor 12, 1-11; 13, 1-13)
Berdasarkan uraian di atas kiranya tidak bisa dipungkiri bahwa cinta merupakan suatu proses, bukan sesuatu yang sudah jadi. Cinta diharapkan berkembang dan dikembangkan lewat tindakan. Kepenuhan cinta akan dialami jika orang beriman bertemu dengan Allah “tidak seperti melihat dalam cermin”, melainkan “melihat muka dengan muka.” (1 Kor 13, 12). Dalam keadaan ini dari iman, harapan dan cinta-kasih, tinggalah kasih sebagai yang terbesar.
----------oooOooo----------
* Makalah ini dibawakan dalam rangka konsultasi teologi pertemuan empat hari Persekutuan Kristen Indonesia se-Eropa (PERKI, 28-31 Mai 2004) pada hari Sabtu, 29 Mai 2004 di kota Dalfsen, Belanda dengan tema „Kasih Mengubah Dunia: Bertumbuh bersama Kasih“.
|