|
KASIH DALAM PERSPEKTIF AGAMA KRISTEN (TINJAUAN TEOLOGIS)
Pdt. Yetti Anggraeni1
PENGANTAR
Mengingat luas dan dalamnya cakupan pokok bahasan kasih dalam perspektif agama kristen, lama saya mempertimbangkan, dari mana saya sebaiknya memulainya? Dan apa saja yang sebaiknya saya sajikan dalam makalah ini untuk mengantar kita membahas pokok bahasan kita dalam waktu yang relatif singkat ini.
Saya berasumsi bahwa kehadiran kita pada saat ini tidak sekedar untuk berdiskusi tentang apa itu kasih dalam Alkitab, yang barangkali malah membawa kita dalam perdebatan dogmatis yang panjang, melainkan kita ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk merefleksikan kembali bagaimana Kasih (Kasih Allah) sebagaimana disaksikan dalam Alkitab untuk melengkapi kita dalam menghadapi konteks kehidupan pada saat ini khususnya dalam upaya turut mengatasi kekerasan sesuai dengan tujuan konsultasi kali ini2.
Untuk itu saya berusaha menuangkan pokok bahasan „ Kasih dalam Perspektif Agama Kristen“ dalam tinjauan teologis ini dengan batasan : Uraian pokok kasih secara umum dalam Alkitab dan beberapa aspek kasih sehubungan dengan tema dan sub tema kita dengan mengambil judul:
KASIH DALAM ALKITAB-SELAYANG PANDANG
Suatu hari sepulang sekolah anak saya melemparkan sebuah teka-teki dari apa yang baru di dapat dalam pelajaran agama di sekolahnya, : "Ibu, siapa yang paling sedih ketika Adam dan Hawa harus meninggalkan Taman Eden?“. Belum sempat saya menjawab, ia melanjutkan: „Yang paling sedih adalah Tuhan, karena Dia sangat mengasihi mereka“. Pernyataan kalimat terakhir yang juga terdapat dalam Kitab bahasa Jerman terjemahan untuk anak-anak tersebut3, semakin menyadarkan kita betapa luas dan dalamnya makna kasih yang tidak hanya dapat kita gali melalui pernyataan-pernyataan ( statement ) tentang kasih saja, melainkan lebih banyak terefleksi dari berbagai tindakan Allah, dan berbagai pengalaman hubungan antara Allah dan manusia maupun antar manusia serta berbagai cerita atau perumpamaan, yang bahkan kadang-kadang tidak kita jumpai kata kasih di dalamnya.
1. Pendeta untuk Masyarakat Kristen di NRW, Jerman, yang ditugaskan atas kerjasama PGI, VEM dan GKJW sejak tahun 1998
2. Tujuan konsultasi sebagaimana tercantum dalam proposal: Untuk memberikan kontribusi pemikiran dan justivikasi teologis, moral,dan sosial kepada umat manusia serta bangsa-bangsa khususnya warga PERKI bagi pentingnya upaya menebar damai dalam kasih dan kampanya hidup dalam kasih.
3. Adam und Eva verließen Eden mit schwerem Herzen. Gott war jedoch noch viel trauriger als sie, weil er die Menschen so sehr liebte. (Meine allererste Bibel. Erzählt von christiane Heinen mit Bildern von Leon Baxter, Herder Reibur, Basel, Wien, 27)
Mengacu pada kata ibrani Ahe´v untuk kata kasih (mengasihi) yang umum dipakai dalam Perjanjian Lama (PL), kita dapat menemukan ungkapan kasih dalam berbagai bentuk hubungan, mis: Kasih Allah kepada manusia yang digambarkan sebagai hubungan Bapa dan Anak (Maz 6:7); atau sebagai hubungan suami isteri (Hosea 1-3). Demikian juga hubungan kasih persahabatan, mis: antara Daud dan Yonatan (I.Sam. 18) dan juga hubungan kasih antara orang tua dan anak mis: Hubungan antara Abraham dan Ishak(Kej. 22 :2); Antara Ishak dan Esau (25: 28a). Kata Ahe´v yang terungkap dalam berbagai bentuk hubungan kasih tersebut mengkonotasikan adanya kemesraan emosional, tanggung jawab dan keterlibatan etis dalam ruang lingkup kerohanian4 dan merupakan ungkapan yang paling dalam dari kepribadian sekaligus hubungan pribadi yang paling akrab dan dekat yang disertai dorongan untuk melakukan suatu tindakan yang mendatangkan kegembiraan serta pengorbanan diri demi kebaikan untuk orang yang dikasihi5 . Dalam Perjanjian Baru (PB), agape` adalah kata yang paling umum dipakai sebagai terjemahan dari kata dalam PL untuk kata kasih, yang dianggap memiliki makna lebih baik, yang juga berarti kasih yang paling tinggi dan paling mulia yang melihat suatu nilai tak terbatas pada obyek kasihnya, yang menggambarkan kasih Allah kepada manusia, kasih manusia kepada Allah dan kasih manusia kepada sesamanya6 .
Dalam Kitab-kitab Injil Sinoptis, Kasih Allah terefleksi dalam berbagai tindakan Yesus baik penyembuhan berdasarkan kasih (Mrk.1:41), penerimaannya terhadap orang berdosa dan tersisih (Luk.7:34) dan keprihatinan atau kesedihannya atas ketidaktaatan manusia (Mat. 23:37) yang semua itu ditegaskan juga dalam berbagai perumpamaan, mis: Anak yang hilang (Luk. 15:11-3); atau Orang samaria yang baik hati (Luk. 10:25-37) dan berbagai pernyataan lain sebagaimana kasih terhadap musuh Mat. 5 :43
4. Religion in Geschichte und Gegenwart, Band 5 L-M, von Hans Dieter Betz, 2002
5. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1 A-Lyayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Cempaka Putih Jakarta, 1997
6. ibid
Rasul Paulus menegaskan kasih sebagai intisari dari Iman, itu sebabnya tanpa kasih segala tindakan dan upaya yang diatasnamakan iman sekalipun akan sia-sia dan karena itu kasih lebih besar dari Iman dan harapan ( I.Kor. 13:1 dbs), dan kasih merupakan dasar ikatan persekutuan orang percaya (Kol. 3:14) serta dasar tindakan etis orang percaya dalam kehidupan sehari-hari (Roma 13: 8-10). Demikian juga Rasul atau penulis Kitab PB lainya menekankan pentingnya perwujudan kasih dalam persaudaraan di antara mereka sebagai milik Kristus. (I.Petr. 1: 22 ; I.Yoh.3: 14).
Baik dari PL maupun PB kita mengerti bahwa pemahaman kasih tidak berawal dari konsep melainkan dari tindakan yaitu tindakan Allah sendiri yang karena keprihatinanNya dan kasihNya membebaskan umat-Nya dari penderitaan . Memang tidak dapat diingkari bahwa penyataan Allah dalam Alkitab (PL) seringkali digambarkan sebagai tindakan yang mendukung tindak kekerasan, mis: Allah memerintahkan umat Israel agar tidak membuat kesepakatan dengan penduduk Kanaan dan berjanji bahwa dengan pertolongan Allah, Israel dapat membinasakan mereka semua (Ul.7:1-24); Umat Israel diperintahkan untuk menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit (Ul.25: 17-19) dan pembinasaan seluruh penduduk Yeriko, berdasar perintah Allah, kecuali Rahab dan keluarganya (Yos. 6: 17-21). Namun bersamaan dengan itu muncul /berkembang pula gambaran-gambaran tentang Allah yang berbeda ,yang bahkan tidak sesuai dengan perhitungan manusia. Dalam PL hal tersebut tampak dalam Missi atau peristiwa Yunus misalnya yang menekankan bahwa Allah mengasihi semua umat manusia dan tidak menghendaki kehancuran atau kematian mereka; Doa Abraham untuk Sodom dan Gomora yang tidak hanya ditujukan untuk kepentingan Lot atau keluarganya dan peristiwa keluaran sendiri yang diwarnai banyak kekerasan didalamnya, ditempatkan pada perspektif Allah yang tidak menghendaki penindasan terhadap yang lemah dan menghendaki kesejahteraan umat-Nya. Visi alternatif ini ditekankan juga melalui perintah atau anjuran-anjuran agar Israel juga berbuat baik dan tidak menindas orang Asing (Ul.10: 17-19 :”Sebab Tuhan Allahmu Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap, yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasihNya kepada orang asing dengan memberinya makanan dan pakaian. Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir).
Dalam PB, Yesus merupakan penyataan Allah yang menegaskan Missi perdamaian tersebut. Kita dapat menemukannya dalam berbagai tindakan Yesus yang menggambarkan Allah adalah Kasih yang tidak diskriminatif, yang memberikan matahari dan hujan bagi orang yang benar dan tidak benar secara sama, dan berbagai tindakan kasih yang telah saya sebut di atas serta yang menderita kekerasan tanpa balas dendam, mati dikayu Salib, untuk memutuskan rantai kekerasan itu sendiri. Kasih dan tindakan Allah ini disaksikan sebagai manifestasi dari nama dan keberadaan Allah sendiri (Kel.34 : 6; Joel 2:13; Neh.9 : 17; I Yoh.4 : 8 )
Karena KasihNya, Allah bertindak menyelamatkan manusia tanpa ditentukan dan dipengaruhi oleh keberadaan manusia yang tidak setia, yang tidak baik dan yang tidak menarik. Justru keberadaan manusia ciptaan-Nya yang menderita itulah yang menjadi keprihatinan Allah dan kehendak untuk menjadikannya baik adalah tujuanNya.
Pemahaman terhadap kasih Allah yang tidak bersyarat ini merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan bagi umat dalam memandang hukum dan perintah kasih kepada Allah dan sesama manusia. Dalam PL, Perintah Kasih kepada Allah lebih bersifat tuntutan untuk membangun hubungan yang sifatnya pemujaan pribadi terhadap Allah7, dan sebagai ungkapan syukur serta kesetiaan kepada Allah yang menyelamatkan mereka8. (Kel. 19: 4-5 : Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepadaKu. Jadi sekarang jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan FirmanKu dan berpegang pada perjanjianKu......“)
7. Ensiklopedi Alkitab
8. Hidup sebagai Umat Allah, Etika Perjanjian Lama, Dr. Christhoper Wright, BPK Gunung Mulia, 1995, 19)
Demikian juga dalam PB sebagaimana dinyatakan Rasul Paulus dalam Roma 3 : 23-24:“ Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.; Roma 6: 13 „....tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran“.
Walaupun dasar dari seruan atau tuntutan mengasihi Allah lebih menekankan hubungan pribadi dengan Allah, yaitu sebagai pemujaan maupun ungkapan syukur, namun sangat jelas bahwa Allah menghendaki agar pemujaan dan ungkapan syukur itu memiliki aspek sosial, karena pada hakekatnya kasih Allah itu dimaksudkan untuk pembaharuan dan keutuhan seluruh ciptaanNya. Hal itu tampak mis: dalam Ul.10:17-19 (telah saya sebut di atas)
Susunan yang serupa terlihat dalam PB: (Yoh.15:12: „Inilah perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu). (I. Yoh 4: 19 : „Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita“).
Prinsip di atas dijabarkan dalam berbagai bentuk hukum dan ajaran yang didasari kasih sebagai tatanan hidup umat Allah baik dalam PL maupun PB.
Dengan demikian, kasih Allah tidak menempatkan manusia sebagai obyek penerima kasih melainkan menjadi subyek yang dikasihi dan yang mengasihi sesama sebagai wujud kasih kepada Tuhan ( I. Yoh. 4: 20:Jikalau seseorang berkata : „Aku mengasihi Allah,“ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya), dan oleh karenanya kasih merupakan eksistenti iman kristen.
Selanjutnya, beberapa Aspek kasih yang ingin saya ungkapkan sehubungan dengan tema dan sub tema kita adalah sbb:
1. Pertobatan hati sebagai konsekuensi dari kasih Allah, mengawali perubahan dunia.
Barangkali kita pernah membaca atau mendengar cerita tentang seorang mantan diktator yang bercerita tentang dirinya: „Waktu masih muda, aku ingin revolusioner dan aku selalu berdoa...., Tuhan berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!“ Setelah aku separoh baya dan sadar bahwa separoh hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orangpun, aku mengubah doaku menjadi, „Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku, keluarga, kawan-kawanku, dan aku akan cukup puas!“ Sekarang ketika aku sudah tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah, „Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri!“
Barangkali kita memang telah menyadari, bahwa kita tidak akan mampu mengubah dunia. Tapi kita yakin bahwa Kasih Allah akan mampu mengubah dunia. Persoalannya adalah: Bagaimana kita menempatkan kasih Allah yang ada pada kita itu, sehingga melalui kehidupan kita dimungkinkan terjadinya perubahan. (kearah yang baik tentunya).
Berkali kali Israel hampir bahkan telah terjebak dalam penyempitan arti kasih kepada Allah. Seruan-seruan pertobatan para nabi menunjukkan bagaimana pengabaian terhadap nilai-nilai kasih kepada sesama (hukum sosial) di satu pihak dan pemujaan pribadi secara ritual yang berlebihan kepada Allah dilain pihak merupakan hal yang tidak disukai bahkan dibenci oleh Allah. Yes.1 :14 „Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan“ Amos 5 : 23-24 : “Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang mengalir“. Hos. 6:6 : “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan Menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran. Mat. 9:13 “.... yang Ku kehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,...“
Kekuatan umat Allah/Orang percaya dalam mengubah dunia tidak semata mata terletak pada Doa (seperti mantan diktator di atas) dan kesalehan pribadi dalam menjalankan kewajiban ritual keagamaan, melainkan pada perwujudan kasih Allah yang sudah diditerimanya dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan kasih yang nyata kepada sesama. Pelaksanaan perbuatan kasih ini memberi efek yang baik bagi lingkungan („dunia“ kita).
Kecenderungan penyempitan makna kasih Allah tentu tidak hanya menjadi monopoli umat Allah dalam PL atau orang percaya dalam gereja Purba, melainkan sepanjang perjalanan iman. Dalam sebuah obrolan tentang kasih dengan seorang teman pdt. Jerman beberapa waktu yang lalu, ia menyampaikan pergumulannya tentang kecenderungan warga gereja yang memahami kasih Allah yang tidak terbatas yang membuat mereka berbuat sesuka hati seakan-akan kasih Allah tidak berkonsekuensi apa-apa atas hidup mereka, karena Allah bagaimanapun juga akan selalu mengampuni dan memahami umat-Nya. Dalam kondisi demikian ia mencoba menekankan kembali tentang kasih Allah yang berkonsekuensi perubahan hidup.(Ef. 4:17-32)
Saya kira bukan hanya mereka tetapi dimana-mana sering terjadi pencampur adukan atau penyalah-artian antara kasih Allah yang tidak bersyarat dengan kasih Allah yang berkonsekuensi. Seringkali tidak bersyarat seakan-akan berarti tidak berkonsekuensi apa-apa. Padahal justru konsekuensi dari kasih Allah itulah yang memungkinkan terwujudnya Missi Allah sendiri yaitu pembaharuan ciptaan. Realitas baru (perubahan dunia) akan terwujud melalui tindakan etis manusia yang dibaharui oleh kasih Allah. Ketika hal itu terlupakan atau terabaikan, maka kita perlu menunda impian kita mengubah dunia, dan berdoa kembali sebagaimana mantan diktator di atas: “Tuhan berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri“. Perubahan diri tersebut akan menebar kedamaian dari lingkungan terkecil dan seterusnya.
Ibu Theresia ketika menerima hadiah Nobel perdamaian, menerima pertanyaan dari seseorang „Apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan perdamaian dunia.“. Ia menjawab: „Pulanglah dan kasihilah keluargamu“.
2. Kasih menempatkan kita dalam persekutuan yang saling mengasihi dan melayani.
Walaupun secara perorangan kita dikasihi Allah, namun tanggapan kita tidak dapat dilepaskan dari sebuah kehidupan bersama sebagai milik Allah (I-Ptr.2:9: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, Imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib“)
Sejak awal, Yesuspun melihat arti pentingnya sebuah komunitas (12 murid) sebagai mitraNya dalam menghadirkan kasih Allah di dunia ini.
Barangkali kita patut menengok sebuah pengalaman nyata dari sebuah komunitas yang mengembangkan pola hidup sederhana , saling mengasihi dan melayani sesama sebagaimana dikehendaki oleh Yesus yaitu komunitas Taize. Komunitas yang berawal dari keprihatinan seorang pemuda Swiss bernama Roger terhadap korban-korban perang pada tahun 40 dan berkembang menjadi komunitas yang saya kira juga mencerminkan kehidupan jemaat pertama yang saling mengasihi dan melayani tersebut perlu terus menerus kita sadari dan kita kembangkan dalam persekutuan „kita“, bukan saja demi kehidupan bersama dalam persekutuan tersebut melainkan agar kita dapat memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang mengasihi kita.
3. Pengampunan merupakan aspek penting dalam hidup persekutuan umat milik Allah
Dalam sebuah komunitas, komunikasi adalah faktor (utama) yang mutlak dibutuhkan. Kesalahpahaman berkomunikasi sangat mungkin terjadi, lebih-lebih jika dilatarbelakangi berbagai kepentingan, bahkan tidak jarang menimbulkan sakit hati dan patah hati bagi anggota lainnya, yang akan menghambat pelaksaan missi dari komunitas itu sendiri jika tidak teratasi dengan baik. Itu sebabnya Aspek pengampunan menjadi aspek penting dalam kehidupan bersama yang didasari kasih. Hal tersebut sudah menjadi pengalaman Yesus bersama kedua belas muridnya. Yang terjadi bukan hanya salah paham tetapi berbagai kepentingan yang menyertainya. Yesus menekankan pentingnya pengampunan baik kepada kedua belas murid dan pengikutnya : melalui tindakan Penyembuhan orang sakit yang diawali pengampunan (Mat.9:1-8); perumpamaan tentang seorang yang berhutang ; dan berbagai pengajaran lainnya, dan juga dalam Doa Bapa kami. Pengampunan adalah aspek yang sangat melekat pada kasih. Karena kasih, Allah mengampuni manusia yang sudah memberontak kepada-Nya. Pengampunan ini yang mengawali rekonsiliasi dan akhirnya terciptanya hubungan dan realitas yang baru.
4. Kasih membutuhkan keberanian untuk menanggung derita
Kahlil Gibran menulis tentang Kasih: „ Sebagaimana kasih memahkotai kita demikian juga ia akan menyalibkan kita“. Kasih bukanlah kasih kalau hanya berhubungan dengan kemesraan, keuntungan, kesenangan dan tidak ada pemberian diri/pengorbanan serta tanggung jawab yang seringkali menuntut keberanian kita untuk menanggung derita demi kasih itu sendiri.
Allah yang digambarkan sebagai Allah yang perkaya dan kuat disatu pihak adalah Allah yang rela menderita demi kasihNya. Yesus telah menunjukkan pengalaman yang demikian. Penderitaan Salib adalah puncak pemberian diriNya karena kasih. Jalan itu yang memungkinkan terwujudnya pendamaian, pembebasan dan realitas kehidupan yang baru.
PENUTUP
Tidak dapat disangkal bahwa kasih adalah nilai yang begitu idealis, namun bukanlah utophianisme yang sentimental yang tidak pernah terwujud dalam kehidupan kita, melainkan kasih telah menyejarah dalam kehidupan manusia.
Memang sebagai manusia kita memiliki banyak kelemahan, namun sebagai manusia yang dikasihi Allah kita memiliki kekuatan untuk mengubah diri kita sendiri sebagai kontribusi dalam upaya menebar damai dalam kasih dan kampanya hidup dalam kasih.
|