|
KONSULTASI TEOLOGI PERKI SE-EROPA
a). Latar Belakang
Sejak awal tahun 2001, memasuki abad ke-21, menangkap nuansa dambaan pengharapan bangsa-bangsa dan umat manusia akan kedamaian dunia, maka World Council of Churches (WCC) atau Dewan Gereja-Gereja se-Dunia, mencanangkan tema pelayanan gereja : Decade to Overcome Violence (dekade untuk mengatasi kekerasan).
Jelas tema ini mengajak siapa pun untuk bersama mengatasi masalah yang dihadapi umat manusia masa kini, yakni kekerasan! Kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini dapat mengancam baik peradaban dunia, maupun martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Suatu realitas yang tak dapat disangkali bahwa :
- KEKERASAN MENGANCAM INTEGRITAS
Di tanah Air kita sejak beberapa tahun terakhir kekerasan juga semakin menjadi fenomena yang mengancam integritas bangsa, maupun martabat manusia. Kekerasan yang diakibatkan baik langsung atau tidak oleh kompetisi tak sehat antar elit maupun benturan antar etnis dapat bermuara pada suatu disintegrasi sosial. Bahkan keterlibatan warga agama dalam konflik horisontal telah melecehkan dan mengancam martabat manusia beragama itu sendiri. Konflik-konflik sosial, yang melibatkan penganut-penganut agama atau etnis tertentu yang terjadi di beberapa daerah di tanah air merupakan kekerasan yang mengancam martabat bangsa Indonesia
- KEKERASAN MENGANCAM PERADABAN
Kekerasan masa kini bahkan muncul sebagai ancaman terhadap peradaban dunia. Peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington, DC, Tragedi Bali tahun 2002 merupakan tragedi yang bukan hanya menimpa AS dan Indonesia, tetapi juga di mana saja dan kapan pun. Kekerasan terorisme dapat mengancam peradaban dunia yang telah dibangun oleh manusia berabad lamanya.
- KEKERASAN MENGANCAM MARTABAT
Kekerasan non fisik merupakan pelecehan martabat manusia.. Pada tingkat yang tidak dapat ditolerir kekerasan non fisik akan mencuat menjadi kekerasan fisik. Betapa tidak jarang perkelahian fisik terjadi, yang mulanya dimulai dengan pertengkaran mulut. Baik di dalam rumah atau di luar rumah, dalam pergaulan sehari-hari, sering ucapan-ucapan keras, mengancam atau memaki begitu mudah keluar dari mulut kita tanpa terkontrol.
Kendati kenyataan kekerasan itu sedang mengancam berbagai elemen hidup manusia dan dunia, namun selaku PERKI berkeyakinan bahwa KASIH memiliki KUASA yang tiada berkesudahan dan mampu mengatasi segala “KUASA KEGELAPAN” yang muncul dalam bentuk berbagai kekerasan yang memperbudak manusia. PERKI yakin bahwa “ KUASA KEGELAPAN” – kekerasan – itu kelak akan dilenyapkan oleh “KUASA KASIH”
Berdasarkan pada keyakinan ini maka PERKI Se Eropa melalui Bidang Penatalayanan mengadakan Konsultasi Tologi dengan Tema : KASIH MENGUBAH DUNIA & sub Tema : BERTUMBUH BERSAMA DALAM KASIH
b). Tujuan Konsultasi Teologi PERKI se Eropa :
- Untuk memberikan kontribusi pemikiran kepada umat manusia dan bangsa-bangsa khususnya warga PERKI tentang mengalahkan “Budaya Kematian” dengan “Budaya Kasih”.
- Untuk memberi justivikasi teologis, moral dan sosial kepada umat manusia dan bangsa- bangsa khususnya warga PERKI bagi pentingnya upaya menebar Damai dalam KASIH.
- Kampanye Hidup Damai dalam KASIH
c). Materi Konsultasi
- Realitas Kekerasan di dalam Masyarakat (Tinjauan umum dari segi Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Hankam) - Letjen Agus Widjojo, senior fellow pada Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta.
- Kasih dalam perspektif Agama Islam (Tinjauan Teologi) - Bapak Kamaruddin Amin, M.A., kandidat PHD Universitas Bonn, Jerman.
- Kasih dalam perspektif Agama Kristen (Tinjauan Teologi) - Ibu Pendeta Yetti Anggraini, S.Th., pendeta bertugas di Nord Rhein Westfalen, Jerman.
- Kasih Ajaran yang Universal : Implementasi dalam kehidupan. (Tinjauan dari Perspektif Filsafat Moral) - Romo Simon Petrus Lili Tjahjadi, kandidat Ph. D. dalam bidang Filsafat Ketuhanan pada Goethe Universität di Frankfurt, Jerman.
d). Proses Konsultasi
- Penyajian Materi
- Tanya jawab
- Diskusi kelompok
- Pleno hasil diskusi
e). Peserta
Pendeta dan Pastor Eropa yang pernah bertugas di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Setiap PERKI diperkenankan untuk mengutus 5- 8 utusan atau lebih, dengan memperhatikan unsur Pendeta/Pastor yang melayani PERKI, Unsur Pengurus dan unsur Warga dengan memperhatikan keterwakilan Pria, Wanita dan Pemuda. Umat Kristen dari organisasi Kristen lainnya yang berminat.
f). Biaya Peserta
- €. 125, 00 untuk penginapan (Jumaat s/d Minggu 28s/d 30 Mei 2004) dan makan malam, makan siang dan makan pagi selama koven, Kebaktian Agung Pentekosta, Pesparawi dan Malam Indonesia (3 X makan malam, 3 X makan siang dan 3 X makan pagi), kecuali Makan dan minum di luar jam-jam yang sudah ditentukan menjadi tanggungan sendiri.
- €. 85,00 untuk penginapan 2 malam (Sabtu dan Minggu)
- €. 45,00 untuk penginapan 1 malam (Minggu)
- €. 10,00 untuk mengikuti Malam Indonesia
- Mereka yang menginap dan ingin mengikuti Malam Indonesia tidak perlu membayar tanda masuk untuk malam Indonesia (tetapi akan diberi tanda khusus).
|