Sosok Populer.

Oleh Mattheus Suitela

 

Sosok semacamnya tak kurang hadir di pelosok mana pun di permukaan bumi ini, di mana bertumbuh, berkembang, dan memanusiawi budaya dan adab bangsa dan negara, dengan anutannya masing-masing pada kuasa mengabadikan kehormatan nama di antara nama-nama lainnya.  Sosok ini tak kentara di antara massa sejenisnya, karena ia hanya sebagian dari suatu paduan yang terdidik dan terlatih untuk bersama merupakan suatu kuasa, kekuatan yang andal.  Bila kita sempat menjadikan diri kita cermin baginya, kita bagai yang menonton paduan massanya dari periferi kegiatan paduan ini; ketika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh sesosok ini di antara sosok-sosok sesama lainnya, (mereka ini yang seorang demi seorang telah disamarupakan, di-klon-kan, di-sama-watak-kan, di-sama-tingkahlaku-kan, bukan secara biologis, melainkan secara psikologi massa); ketika kita mencerminkan dirinya pada diri kita, - yang kita sudah lakukan berkali-kali tanpa sadar, karena memang kebiasaan-kebiasaan selalu bersifat otomatis, tak perlu diwawas atau dipikir selalu cara, dasar, isi, maksud serta segala tetek-bengek lainnya - , kita yang tidak sedikit, kita suku, kita agama, kita ras, kita golongan, kita kelompok seselera, kita keluarga, kita orang-seorang, KITA BANGSA; KITA NEGARA, dan kita-kita lainnya pun: KITA-KITA SEPERTI CERMIN BAGI SOSOK yang disebut pada awal karangan ini,  dan semua kita mendengar sosok ini bertanya dengan suara nyaring kepada kita: “Hai cermin, saya cantik nggak?”  Terkadang kita akan menjawab “Ah, ah, ah!”, terkadang pula membahak “Ha, ha, ha!”, dengan mengartikannya bermacam-macam, tergantung sikon masing-masing, semakin inTELEKtual, semakin bertumpuk bumbu TELEK-nya. Yah, telan sajalah!  Namanya juga telek toleransi nasional, pan!

 

Siapa pun sosok ini, tipenya akan memanggung di atas pergelaran PEMILU 2004 nanti, di Amerika, di Indonesia, di “Irak”.  Ah, ah, ah!  Ha, ha, ha!

 

Kala perang, bila di pihak pemenang, sosok ini akan berteriak ”GEORGE“ dan “TONY“, bila di pihak pengalah, ia akan berteriak “SADDAM“ dan “OSAMA” Ah, ah, ah! Ha, ha, ha!

 

Saya teringat kawanku almarhum Th. Sumartana, ketika masih ingusan berteologi di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, ketika memanggungkan adegan sebabak karya sandiwara pribadinya, dengan dirinya bagai lakon utama, sendiri, bagai orang tua bangka, kakek, merenungkan dengan suara nyaring, suara terpatah-patah, berawal dengan „Namaku adalah SUNYATA“, menghidupkan kembali masa kanak dan mudanya, ikut sini, ikut sana, bertumbuh berkembang bersama massa sebayanya, mengikuti jenjang-jenjang kebiasaan sesehari,  sekali-sekali mengkhayalkan menembak burung dengan bedil mainan, dor, dor, dor ke kiri, kekanan, ke depan, ke belakang, ke atas sini, ke atas sana, KAKEK TUA-BANGKA, senil, kekanak-kanakan, bercerita kepada dirinya sendiri dengan suara nyaring, seakan ditonton oleh banyak pemenat akan ceritanya, sambil duduk di kursi malas,  mengenai sikon masakininya bagai panggung masakanak dan masamudanya, seakan ia benar kanak, benar muda, mencoba mengadegankan kembali masa-masa lalunya itu, walaupun sudah dibungkukkan dan dikakukan oleh pengalaman dan ketuaannya, walaupun sudah tak selancar dan segesit masa dulunya itu, dengan tongkatnya berfungsi sebagai bedil, barang pikulan, atau barang pukulan, pukul kiri, pukul kanan, bagai penopang dirinya ketika berusaha berdiri dan berjalan tegak, dengan matanya yang sudah kabur, dengan lehernya yang sulit diputarkan ke kiri atau ke kanan atau ke atas atau ke bawah, atau ke belakang, selalu seluruh badannya harus ikut berputar. Bagi para penonton yang membahak hahaha mengikuti adegan satu babak sikakek ini, dilakonkan oleh Tono, kesan yang diperoleh adalah „mengagumkan!“  Eka Darmaputra dalam obituarinya berkenan dengan wafat Tono telah mengakuinya juga.

 

Baru di masa tuaku ini saya anggap permainan satu babak Tono inilah yang paling mengesankan. Almarhum D. A. Peransi (Bert), ketika itu adalah dosen STT bidang semantik bahasa Indonesia, menarik perhatian Tono kepada exixtensialis J.P. Sartre, dan sedikit pengertian tentang karya tulisan Sartre inilah telah menggerakkan Tono menciptakan adegan satu babak SUNYATA ini, singkatan dari “sudah” dan “nyata”, yang artinya bisa dirasakan ketika mengikuti adegan ini.  Betapa serius pun kakek ini menghidupkan kembali masamudanya, betapa pun ia berusaha membangkitkan perhatian umum kepada ceritanya itu, bagai trompet massa generasi manula mengisahkan pengalamannya kepada generasi penerus, ia harus memperhitungkan kesan pendengar dan penonton tentang dirinya bahwa ia PELAWAK SENIL YANG MENGAGUMKAN.

 

Kembali kepada sosok kita pada awal karangan ini. Nyatanya ia tidak terkenal sama sekali. Konon ia serdadu biasa, ikut dalam suatu regimen ketentaraan, ikut bertempur ke mana-mana demi kebesaran nama Perancis dan Napoleon Bonaparte.  Ketika Napoleon kalah talak melawan Inggeris dkk dan dikucilkan di St. Helena,  serdadu seorang ini marah betul, dan memerangi kesan bahwa harkat dan martabat bangsa dan negaranya  telah sirna.  Cerita ini lama kemudian secara kebetulan menarik perhatian pengarang lawak komedi.  Maka muncullah komedi mengenai unek-unek rasa  dan emosi kefanatikan serta kebanggaan sosok serdadu ini mengenai Napoleon dan Perancis. Lawak-lawak komedi mengenainya kemudian menjamur menarik banyak penonton, kemudian menjadi populer di Eropa, menjadi bahan percakapan di restoran-restoran, di diskusi-diskusi pelbagai kalangan ekonomi, sosial, dan politik, di universitas-universitas, di kalangan rohaniwan, di kalangan para filsuf. Namanya dipakai sebagai judul komedi: CHAUVIN (dari Nicholas Chauvin).  Sifat dan wataknya dikekalkan dalam kamus dan ensiklopedi: CHAUVINISME. Jangan meremehkan pengaruh komedi dan lawak!

 

A. Toynbee, A Study of History, menyebut sejarawan Perancis terkenal, Camille Julian, yang tulisan-tulisan sejarah budaya negaranya begitu membanggakan budaya Perancis ini, sampai  mengandalkannya sebagai sentrum, pusat pengaruh rohani dan budaya Eropa seanteronya. 

 

Saya sendiri berkali-kali mendengar suara tokoh Jerman yang mengandalkan bahasa Jerman bagai bahasa umum Eropa, mengalahkan bahasa Inggeris dan Perancis. Ah,ah,ah, ha, ha, ha!

 

Almarhum Drs Esmet Sapari, rekanku dulu di Sekolah Indonesia di Wassenaar, Nederland, dalam percakapan menggugatku dengan pertanyaan apakah lebih penting, agama atau bangsa dan negara, kalau orang bertanya kepadamu siapakah kamu, berbangsa dulu kemudian beragama, atau beragama dulu, baru berbangsa?  Saya menjawab „ini pan pertanyaan chauvinis, untuk apa dijawab?“  „Apakah chauvinisme menurut Anda?“ tanyanya kemudian.  Lalu kami berdiskusi tentang istilah ini.  Tapi dalam karangan ini jawaban saya tentulah “CHAUVINISME ADALAH WATAK SOSOK PELAWAK POPULER DALAM BEBERAPA KOMEDI TERKENAL.” Dan dunia, ah, ah, ah, adalah panggung komedi lawak juga, terkadang, ha, ha, ha!

 

 

Wina, 9 Januari, 2004.